"I say never be complete. I say stop being perfect. I say let's evolve. Let the chips fall where they may." —Fight Club

Sabtu, 06 Agustus 2011

GERAKAN KONSERVASI DI GUNUNG LEMONGAN


Oleh : A’ak Abdullah Al-Kudus

Gunung Lemongan (1671 dpl) yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur merupakan pilar ekosistem yang sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat di sekitarnya terutama terkait dengan kelestarian sumber mata air bagi ± 9 Ranu[1] yang terdapat di sekitar Gunung tersebut. Ranu-ranu tersebut adalah Ranu Lemongan, Ranu Bedali, Ranu Pakis, Ranu Lading, Ranu Kembar, Ranu Glébég, Ranu Agung dan Ranu Segaran. Jumlah tersebut belum termasuk Ranu Wurung[2] dan mata air di sekitar Gunung ini yang jumlahnya tak terhitung secara pasti.

Ranu-Ranu tersebut selama ini menjadi tumpuan hajat hidup orang banyak terutama untuk pemenuhan kebutuhan air bersih dan irigasi bagi masyarakat yang mayoritas dari keturunan Madura khususnya yang ada di tiga kecamatan di Kabupaten Lumajang dan dua kecamatan di Kabupaten Probolinggo, yakni kecamatan Ranuyoso, Kecamatan Klakah, Kecamatan Randuagung, Kecamatan Tiris dan Kecamatan Krucil.

Sebagai salah satu contoh, Ranu Lemongan yang ada di Desa Tegalrandu, sampai saat ini mampu mengairi ±620 Hektar areal persawahan di wilayah kecamatan Klakah. Sumber mata air di Ranu Bedali mampu mengalirkan berkubik-kubik air minum melalui pipa-pipa milik PDAM ke masyarakat yang ada di Kecamatan Ranuyoso, Kecamatan Klakah hingga ke Kecamatan Kedungjajang. Di Ranu Pakis mengapung ratusan petak tambak milik masyarakat untuk pembudidayaan ikan Nila dengan nilai omzet tak kurang dari 2 milyar per tahun. Di Ranu Lading, para nelayan menebarkan jala dari atas rakitnya untuk menangkap ikan sebagai nafkah bagi istri dan anak-anaknya. Di sudut lainnya anak-anak berlompatan riang menikmati mandi yang segar bersama teman-temannya, sementara para perempuan mencuci pakaian di tepian aliran sungainya. Singkat kata, kelestarian ekosistem di Gunung Lemongan keberadaannya sangat vital bagi kelangsungan hidup masyarakat yang ada di sekitarnya.

Namun sayang, saat ini kondisi alam di Gunung Lemongan dalam situasi yang sangat memprihatinkan. Terdapat ±6000 Hektar areal Green Belt yang seharusnya dalam kondisi hijau, kini gundul. Bukit dan lerengnya meranggas, hanya ditumbuhi ilalang serta tanaman perdu lainnya. Kondisi ini terjadi sejak dekade 1998-2002 karena terjadinya insiden illegal logging. Upaya menggoyang kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia pada saat itu oleh sekelompok elite politik tertentu berdampak pula pada pengrusakan hutan secara besar-besaran di Jawa Timur; mulai sepanjang Banyuwangi hingga Pacitan.

Statement Gus Dur ”Hutan untuk Rakyat” telah dipelintir sedemikian rupa oleh rival politik Gus Dur untuk menimbulkan situasi chaos di tengah masyarakat. Dan terbukti cara tersebut berhasil menggerakkan sekelompok masyarakat (yang juga ditunggangi oleh oknum aparat pemerintah dan penegak hukum juga pengusaha) untuk melakukan penebangan hutan secara membabi buta dengan dalih bahwa perbuatan mereka ini telah sesuai dengan perintah Gus Dur selaku Presiden RI pada saat itu. Alas we’e negoro, sing butuh kayu neghoro (Hutan milik negara, yang butuh kayu tebanglah). Serangkai kalimat tersebut bagai mantra yang mampu menghipnotis sebagian masyarakat untuk berangkat ke hutan memanggul kampak dan gergaji menebangi setiap pohon yang mereka temui tanpa pandang bulu. Maka habislah sebagian besar hutan di Jawa Timur, termasuk hutan di Gunung Lemongan ini. Hilanglah sudah kejayaan hutan rimba Gunung Lemongan yang menjadi penyangga ekosistem bagi sembilan Ranu tersebut bersamaan dengan diangkutnya ribuan kubik kayu beragam jenis dari hutan ini ke pabrik-pabrik milik si kaya. Punahlah pula burung-burung dan satwa liar penjaga rimba Gunung Lemongan yang anggun akibat kerakusan manusia yang tak bertanggung jawab tersebut. Tak terhitung berapa besar kerugian negara akibat insiden ini. Dan anehnya, tak ada satu orangpun yang menjadi tersangka pelaku dalam pengrusakan hutan yang –bisa jadi- terbesar dalam sejarah kehutanan Indonesia ini. Yang tersisa hanyalah tonggak-tonggak kayu bergetah. Hanyalah reruntuhan daun dan ranting-ranting patah yang berserak. Hanyalah kerusakan dan bencana. Dan satu hal yang sudah pasti; bahwa ujung-ujungnya rakyat kecil jualah yang harus menanggung seluruh akibat dari insiden pengrusakan hutan tersebut.

Fakta mengenaskan dari insiden brutal di atas saat ini, adalah mulai banyaknya mata air yang mati di sekitar Gunung ini dan setiap kali turun hujan selalu menyisakan titik longsor di tebing dan lereng Gunung Lemongan bak guratan luka di wajah si rupawan. Di kecamatan Klakah mulai banyak petani yang gagal panen karena sawahnya kekurangan air akibat supply irigasi dari Ranu Lemongan berkurang drastis. Debit air di Ranu Lemongan turun hingga 4 meter. Dari 30 titik mata air yang ada di Ranu ini, sekarang tersisa hanya empat mata air saja yang masih mengalirkan air. Dari desa sebelah ada kabar dua lelaki tewas mengenaskan karena carok[3] untuk memperebutkan air irigasi di sawahnya. Tak terhitung jumlahnya para lelaki dan perempuan yang meninggalkan sawah mereka untuk menjadi Buruh Migran ke Malaysia dan Arab Saudi, karena sawahnya sudah tak menjanjikan apa-apa lagi.

Di jalan-jalan sekarang mulai marak becak yang mengangkut puluhan jurigen berisi air bersih untuk dijajakan ke warga karena pipa PDAM sekarang tak lagi lancar mengalirkan air minum dari Ranu Bedali dan Sumber Wringin akibat kian kecilnya debit air yang ada. Di Ranu Pakis banyak tambak ikan Nila yang gulung tikar karena hasil panennya kurang bagus akibat sirkulasi air di Ranu Pakis sangat buruk yang artinya kandungan oksigen di dalam air berkurang dan mengakibatkan banyak ikan mati. Di Ranu Lading tak terdengar lagi kejungan[4] nelayan yang lantang namun merdu mengiring tebaran jala dan kayuhan rakit bambunya. Mereka telah lama menggantungkan jalanya di dinding dapur karena sudah jarang sekali dapat tangkapan ikan. Kalaupun dapat, ikannya cenderung tidak sehat, dagingnya tipis, kepalanya besar dan para pembeli di pasar akan menampiknya. Anak-anak tak lagi bisa berenang bebas ke tengah Ranu karena mulai banyak tumbuhan sejenis ganggang yang mengganggu gerak renang mereka disamping karena kondisi airnya pun mulai keruh dan menyebabkan gatal di kulit.

Hijau rimbun hutan belantara di Gunung Lemongan beserta kicau burung dan suara satwa liarnya. Bening air di Ranu dan sungai-sungainya beserta kecipak ikan dan udang, tiba-tiba hilang seketika dalam waktu sekejab bersamaan dengan hilangnya tawa riang anak-anak di tepi Ranu Lemongan. Banyak masyarakat yang sedih atas kondisi ini. Tak sedikit pula yang menyesal akibat keterlibatan mereka dahulu karena telah turut menebang pohon hanya demi seupah uang. Kini, tak ada yang tahu siapa yang harusnya bertanggung jawab atas kondisi ini. Tak ada pula dari pihak berwenang yang berkenan untuk mengatasi kondisi ini. Gunung Lemongan terlantar mengenaskan bagai seonggok batu di pinggir jalan.

LAHIRNYA GERAKAN KONSERVASI LASKAR HIJAU

Terpuruknya ekosistem di Gunung Lemongan seperti yang telah digambarkan di atas, menggugah sekelompok masyarakat untuk melakukan sebuah gerakan konservasi guna mengatasi kondisi tersebut. Dimulai sejak tahun 2005 kelompok tanpa nama ini melakukan penghijauan di sekitar Ranu Lemongan di areal seluas ±10 Hektar. Mereka menanami tepian Ranu Lemongan yang mulai gundul tersebut dengan beragam jenis pohon buah dan beragam jenis pohon penahan air seperti gayam, johar dan bambu.

Karena sekarang di tepian Ranu Lemongan sudah dianggap penuh dengan pepohonan, maka sejak akhir tahun 2008 gerakan penghijauan mulai diarahkan ke Gunung Lemongan khususnya di areal Green Belt yang memiliki luasan sekitar 6000 hektar. Namun karena demikian luasnya areal yang perlu untuk dihijaukan kembali, maka gerakan penghijauan tidak bisa dilakukan secara insidentil seperti di Ranu Lemongan selama ini. Gerakan penghijauan di Gunung Lemongan harus dilakukan secara intens dan terencana. Dan untuk menghadapi tantangan tersebut, maka pada tanggal 28 Desember 2008 dibentuklah sebuah Tim Kerja pelaksana gerakan penghijauan tersebut dengan nama Laskar Hijau. Program utama dari organsisasi ini adalah melakukan penghijauan di Gunung Lemongan setiap hari minggu.

Organisasi ini bersifat nirlaba dan berjiwa kerelawanan serta menjunjung tinggi semangat kemandirian, gotong royong, keterbukaan dan kesetaraan. Visi dari organisasi ini adalah mengembalikan Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya khususnya di Gunung Lemongan karena mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan dalam bentuk laku kerja penghijauan dengan konsep hutan setaman. Organisasi tidak berafiliasi dengan organisasi apapun apalagi dengan partai politik seperti Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Bulan Bintang yang juga memiliki unit kerja bernama Laskar Hijau. Adapun terjadinya kesamaan nama pada organisasi ini hanyalah sebuah kebetulan yang sifatnya tidak disengaja.

Sampai ini, organisasi ini belum memiliki struktur pengurus apalagi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Organisasi ini lebih mengedepankan bangunan kultur terlebih dahulu sebelum membangun struktur. Semua yang bergabung di organisasi ini berstatus sebagai Relawan. Jika diperlukan sitem koordinasi untuk sebuah kegiatan, maka akan dibentuk koordinator yang bersifat ad-hoc yang masa kerjanya akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya kegiatan tersebut. Para relawan organisasi ini sebagian besar berasal dari warga sekitar hutan yang mayoritas dari mereka sehari-hari berprofesi sebagai petani dan pekebun, bukan dari orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi dan bukan pula dari kalangan yang memiliki status sosial mapan.

Penghijauan yang dilakukan oleh Laskar Hijau setiap hari minggu tersebut terfokus pada areal Green Belt Gunung Lemongan. Penghijauan yang dilakukan oleh Laskar Hijau ini berkonsep ”Hutan Setaman”, artinya dalam tiap jengkal tanah ditanami beragam jenis tanaman. Adapun jenis tanaman yang ditanam di Gunung Lemongan ini sebagian besar adalah beragam tanaman buah, dengan maksud agar supaya masyarakat yang selama ini bermata pencaharian di hutan (seperti pencari kayu, pembuat arang, pemburu satwa liar, pencari belerang, dll) tidak perlu lagi merusak hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan cukup dengan memetik buah-buahan yang tersedia dan berlimpah di hutan yang dibangun oleh Laskar Hijau dengan syarat tidak boleh menebang pohonnya. Adapun jenis pohon buah yang banyak ditanam di Gunung Lemongan oleh Laskar Hijau adalah Durian, Mangga, Rambutan, Jambu, Manicu, Bisbul, Klengkeng, Sirsak, Sawo, Manggis, Sukun, Nangka, Alpukat, Langsep, Duku, dan banyak jenis lainnya.

Selain tanaman pohon buah, juga ditanami beragam jenis tanaman langka dan tanaman konservasi yang berfungsi efektif sebagai penangkap air, penahan erosi, penyerap karbon dioksida serta produsen oksigen. Sebagai contoh tanaman bambu, ia mampu memproduksi oksigen hingga 82%. Adapun target penghijauan di Gunung Lemongan ini –dengan kondisi Laskar Hijau seperti sekarang- diharapkan mampu mencapai 300 hektar pertahun. Artinya untuk menuntaskan menanami serta merawat tanaman di areal 6000 hektar hingga tanaman tersebut diyakini dapat hidup dan berkembang dengan baik, dibutuhkan waktu antara 15-20 tahun. Sepanjang tahun itu pulalah, para relawan mengikrarkan diri untuk fokus dan intens di Gunung Lemongan.

Untuk mempermudah proses pemantauan dan kerja-kerja perawatan tanaman sehari-hari, Laskar Hijau mendirikan Posko Konservasi Gunung Lemongan di lereng sisi barat dari Gunung ini tepatnya pada ketinggian ±600 dpl. Di sekitar posko ini -di luar jadwal penghijauan- para relawan juga memanfaatkan sebagian lahan yang tidak produktif untuk ditanami tanaman pangan seperti jagung, singkong, ketela rambat, kacang tanah, sayur mayur, dan sebagainya untuk mendukung kebutuhan logistik para relawannya. Posko ini sudah seperti rumah kedua bagi para relawan di Laskar Hijau, karena waktu mereka sehari-hari lebih banyak dihabiskan di tempat ini, bahkan ada juga yang menginap di sini meninggalkan anak istri dan hanya pulang ke rumahnya seminggu sekali. Di tempat ini pula direncanakan akan dipelihara beberapa ekor kambing untuk memenuhi kebutuhan pupuk kandang, dan juga akan dijadikan areal pembibitan tambahan jika memungkinkan untuk mendapatkan air dari sumur yang sekarang sedang dalam proses penggalian.

BIBIT POHON DARI TONG SAMPAH

Dalam melakukan penghijauan untuk areal seluas ±6000 Hektar, tentulah akan sangat membutuhkan banyak sekali bibit pohon, bisa jutaan jumlah bibit pohon yang dibutuhkan. Dari manakah Laskar Hijau yang nota bene tidak didukung pendanaan dari siapapun ini mampu menyediakannya? Jawaban yang pertama adalah dari Tong Sampah! Kok bisa? (”kok”nya dibuang, pasti ”bisa”).

Pada hari-hari tertentu, para relawan Laskar Hijau ini punya jadwal untuk menyusuri setiap tempat sampah di pasar-pasar dan di perkampungan-perkampungan guna mengumpulkan biji-bijian buah yang banyak dan beragam jenis namun selama ini terabaikan fungsinya. Jika musim durian, mereka akan menyusuri tempat sampah para pedagang durian di wilayah Lumajang, Probolinggo, Pasuruan hingga ke Malang. Sementara untuk biji buah mangga, rambutan, kelengkeng, salak, sawo, nangka dan sirsak sangat mudah didapat dari tempat sampah di perkampungan-perkampungan sekitar. Khusus untuk biji buah alpukat, tempat sampah yang paling prospektif adalah milik para pedagang Es Campur. Selain dari tong sampah, banyak pula biji buah-buahan lain yang didapatkan dari pemberian warga yang menjadi pasien akupunktur Laskar Hijau, atau dari warga masyarakat yang peduli dengan kegiatan Laskar Hijau, dan atau dari kawan serta relasi lain Laskar Hijau dari berbagai kalangan.

Bibit pohon yang dikembangbiakkan oleh Laskar Hijau selain bibit pohon buah-buahan khususnya buah lokal, tapi dikembangkan pula bibit pohon dari tanaman-tanaman penahan air, juga tanaman yang mulai langka dan aneka jenis bambu khususnya Bambu Petung (Dendrocalamus Asper), Jajang Hitam (Gigantochloa Atroviolacea Wijaya) dan Bambu Andong Besar (Gigantochloa Pseudoarundinacae).

Adapun jawaban yang kedua tentang dari manakah bibit-bibit pohon tersebut berasal? ialah dari hasil kerjasama pembibitan dengan masyarakat. Salah satu kerjasama pembibitan yang pernah dilakukan oleh Laskar Hijau adalah dengan siswa-siswi SDN Ranuyoso 03 di Lumajang dan SDN Tigasan Wetan 04 di Probolinggo. Model kerjasama pembibitan yang dibangun adalah Laskar Hijau menyumbangkan sejumlah polly bag ke sekolah-sekolah tersebut, sedangkan pihak sekolah mewajibkan para siswa-siswinya untuk mengumpulkan biji buah-buahan di rumahnya untuk selanjutnya melakukan pembibitan di sekolah mereka pada jam pelajaran keterampilan dan jam-jam kosong pelajaran. Pelajaran pembibitan ini selain dimaksudkan untuk membantu Laskar Hijau menyediakan bibit-bibit pohon yang akan ditanam di Gunung Lemongan, tapi juga untuk menumbuhkan rasa cinta lingkungan terhadap para generasi bangsa ini. Hasilnya sungguh luar biasa! dari masing-masing sekolah bisa menghasilkan sekitar 10.000 bibit pohon buah pertahunnya.

Bayangkan jika Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikannya mewajibkan setiap sekolah untuk melakukan pembibitan seminggu sekali bagi para siswa-siswinya, tentulah akan didapat jutaan bibit setiap tahunnya, dan hal tersebut akan menghemat anggaran belanja daerah untuk pengadaan bibit pohon yang platform harganya selama ini sangat tinggi dan boros dana. Bisa dibayangkan, jika untuk setiap pengadaan bibit pohon selama ini harganya sekitar Rp. 5000,- s/d Rp. 10.000,- , maka berapa milyar dana APBD yang bisa dihemat oleh Pemerintah Daerah dengan cara pengadaan ini?

Laskar Hijau memiliki lokasi pembibitan sendiri di pinggir aliran sungai Ranu Lemongan seluas ±2500 m². Lahan ini hasil sewa dari penduduk setempat dengan harga sewa Rp. 1.500.000 / tahun. Di lahan ini juga disediakan 1 unit Green House ukuran 4x10 m untuk kebutuhan pembibitan. Disamping itu, sebagian tanahnya juga dimanfaatkan sebagai kolam ikan sebagai bentuk upaya untuk mulai membangun pendanaan mandiri bagi Laskar Hijau.

SOSIALISASI MELALUI AKUPUNKTUR

Setiap gerakan sosial sangat membutuhkan dukungan dari masyarakatnya. Tanpa dukungan dari masyarakat, gerakan sosial tersebut akan gagal. Dan untuk bisa mendapat dukungan dari masyarakat tersebut butuh strategi sosialisasi yang tepat dan jitu. Dalam melakukan sosialisasi tentang gerakan konservasi di Gunung Lemongan ini, Laskar Hijau menggunakan media pengobatan Akupunktur sukarela di desa-desa sekitar Gunung Lemongan, khususnya di Desa Salak, Desa Sumber wringin, Desa Tegalrandu, Desa Klakah dan Desa Papringan. Yang menarik dari strategi ini adalah setiap warga masyarakat yang berobat kepada para relawan Laskar Hijau tidak diminta untuk membayar dengan uang, malainkan dengan biji-bijian atau bibit pohon yang ada di sekitar rumah mereka. Cara ini bagi masyarakat sangatlah tidak lazim, dan karena ke-tidak laziman-nya inilah membuat masyarakat bertanya kepada pada relawan Laskar Hijau; ”kenapa mereka minta dibayar dengan biji-bijian?”. Pada saat itulah, para relawan Laskar Hijau memiliki peluang yang bagus untuk menjelaskan tentang gerakan konservasi yang sedang dilakukan di Gunung Lemongan dan pentingnya masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian ekosistem di Gunung Lemongan. Alhasil, dari gerakan akupunktur tersebut, saat ini mulai banyak mantan pasien akupunktur yang dengan sukarela mengumpulkan biji-bijian dan bibit pohon untuk disumbangkan kepada Laskar Hijau meskipun mereka tidak sedang berobat. Bukan seberapa banyak biji atau bibit yang mereka sumbangkan kepada Laskar Hijau, tapi yang lebih penting adalah lahirnya kesadaran mereka untuk turut serta membantu gerakan konservasi ini.

Adapun akupunktur yang dikembangkan oleh Laskar Hijau adalah akupunktur ala Indonesia penemuan Bapak Gunawan Ismail. Konon ilmu ini sudah dipraktikkan selama empat puluh tahun oleh penemunya. Pak Gunawan Ismail yang ahli di bidang Ilmu Kimia dan Fisika menemukan ilmu ini saat beliau menjadi pesakitan di Pulau Buru. Di sanalah beliau mempelajari ilmu pijat Jawa dan tusuk jarum. Akupunktur ala Indonesia ini merupakan hasil eksplorasi yang sangat panjang dan intens dari prinsip-prinsip pengobatan timur dan kedokteran barat. Pak Gunawan Ismail sangat mencita-citakan hasil temuannya ini dapat ditularkan kepada semua orang. Beliau membayangkan jika di setiap lingkungan Rukun Tetangga (RT) memiliki seorang ahli Tusuk Jarum sederhana yang bisa mengobati penyakit ringan seperti batuk, flu, pilek, pusing, stres, sakit perut, atau kelelahan tentu akan sangat menyenangkan.[5] Sungguh cita-cita Pak Gunawan Ismail tersebut bagi Laskar Hijau sangatlah mulia, karena hal tersebut akan mewujudkan kedaulatan rakyat atas kesehatan. Dan oleh karena itu, Laskar Hijau bersedia untuk turut menularkannya.

Laskar Hijau mengajarkan ilmu akupunktur ini kepada para relawannya dalam rangka agar masyarakat memiliki kemampuan untuk menyembuhkan –minimal- dirinya sendiri dan anggota keluarganya. Oleh karena itu, siapapun boleh belajar ilmu ini kepada Laskar Hijau, tapi dengan dua syarat penting : (1) tidak boleh mengkomersilkan pengobatan akupunktur ini kepada siapapun, namun relawan boleh menerima pemberian sukarela dari pasien sekadar untuk mengganti pembelian jarum; (2) jika ada orang yang mau belajar harus diajari tanpa memungut biaya.

Selain sosialisasi melalui akupunktur, Laskar Hijau juga melakukan kampanye tentang lingkungan melalui beberapa event yang sengaja diselenggarakan untuk itu, terutama event tahunan ”Maulid Hijau” yang diselenggarakan setiap tahun pada minggu kedua bulan Mei di Ranu Lemongan selama tiga hari tiga malam. Selain event tersebut, diselenggerakan pula event-event lain seperti Multicultural Green Camp yang diselenggarakan pada pertengahan Maret 2010 yang lalu, Umbul Donga Ijo Royo-Royo pada awal Mei 2010[6], Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2010, dan event-event kecil lainnya.

RESPON DAN TANGGAPAN

Tentu, setiap kejadian akan menuai tanggapan atau respon dari masyarakat. Baik dari yang suka maupun yang tidak suka. Baik respon yang positif maupun yang negatif. Berikut adalah beberapa respons dan tanggapan yang di dapat oleh Laskar Hijau selama melakukan gerakan konservasi di Gunung Lemongan :

Orang-orang dalam Laskar Hijau -pada dasarnya- adalah sosok-sosok bersahaja yang terlalu mencintai alam. [Rida Fitria][7]

Dengan adanya Laskar Hijau, Gunung Lemongan akan hijau kembali, dan Klakah akan menjadi kota buah, Probolinggo akan menjadi Pelabuhan Internasional dan Sidoarjo akan menjadi Ibu Kota Asean. [Citro Sridono Sasmito, Pinisepuh Gunung Lemongan dan Guru Agung Padepokan Sonyoruri].

Para Relawan Laskar Hijau yang menanami Gunung Lemongan dengan pohon-pohon ini, menurut saya pahalanya sama dengan naik haji. [Miari, Petani di Desa Papringan]

Laskar Hijau itu cuma mengganggu Perhutani saja. Lihat saja, nanti poskonya saya bakar [“H” salah seorang oknum dari Perhutani].

Laskar Hijau itu sama dengan LSM lainnya, paling-paling cuma untuk cari proyekan saja. [Agus, Guru SMA].

Kegigihan Laskar Hijau melestarikan dan menyelamatkan lingkungan alam pegunungan ini tersirat saat mereka mengumpulkan bibit-bibit buah dari sampah-sampah di Pasar Ranuyoso, Alun-alun Kraksaan, Alun-alun Probolinggo, depan Pabrik Tekstil Grati, Pasuruan, Purwodadi, hingga Pasar Besar Malang. [KOMPAS, Jumat 14 Mei 2010][8]

Melalui tindakan nyata yang telah dilakukan, Laskar Hijau berhasil menumbuhkan kesadaran masyarakat di sekitar Gunung Lemongan akan pentingnya upaya pelestarian lingkungan. Laskar Hijau yang dengan ikhlas melakukan penanaman telah membuat masyarakat setempat mulai merasa memiliki hutan Lemongan yang satu tahun terakhir mulai tampak bersemi. [Majalah SOROT Edisi 54, Januari – Februari 2010]

They came together for the purpose of regreening Mt. Lemongan, restoring the springs, preventing floods and landslides, and getting the rich natural biodiversity back. The group’s emphasis is on the awareness and participation of all parties that care about Mt. Lemongan and its surrounding area. [THE JAKARTA POST, Tuesday, May 25, 2010][9]

Laskar hijau bukanlah organisasi yang datang untuk menawarkan program-program dengan cara pandang Laskar Hijau yang berusaha disuntikkan ke warga. Namun Laskar hijau kulihat hidup dan tinggal bersama masyarakat setempat, berkarya bersama mereka, membikin rencana bersama dari apa yang diketahui warga. [Alpha Savitri][10]

ANALISIS DAN ULASAN

Dari sudut pandang model gerakan, Laskar Hijau memiliki model yang unik dan cukup ekstrim dalam melakukan gerakannya. Hal ini tergambar dari komitmen mereka untuk memilih ”jalan sunyi” pergerakan, yang selama ini tak banyak dilirik oleh –bahkan- kalangan aktivis lingkungan sendiri. Selain itu, konsistensi yang dibangun bersama dengan melakukan penghijauan setiap hari minggu merupakan inspirasi sendiri bagi dunia gerakan yang seringkali tergiur dengan tawaran program lain dari pihak founding dengan isu yang seksi dan dana yang lebih menggiurkan hingga menjadi luput dan bahkan lupa pada isu utama yang seharusnya diperjuangkan.

Dari sisi organisasi, Laskar Hijau juga memiliki cara membangun organisasi yang keluar dari kebiasaan untuk saat ini. Membangun kultur terlebih dahulu, baru kemudian struktur. Jika kita amati bersama dari pengalaman organisasi rakyat yang ada selama ini banyak yang membangun dirinya dari struktur terlebih dahulu. Dan ketika organisasi tersebut sudah mapan terutama dalam hal pendanaannya, justru pada saat itulah sering terjadi hancur. Dan mayoritas penyebabnya adalah dari faktor internal organisasinya sendiri. Korupsi, saling berebut kekuasaan dan pengaruh, dan faktor-faktor yang nyaris tidak ideologis sama sekali, seringkali menjadi pemicu utama pecah dan hancurnya organisasi rakyat.

Di Laskar Hijau sendiri yang nota bene tidak memiliki aset apapun, persoalan-persoalan semacam itu juga pernah muncul. Ini sungguh menggelikan. Rupanya, mental ingin bersaing dengan siapapun, nafsu selalu ingin menang dengan cara apapun, keserakan untuk memiliki punya siapapun, sudah menjadi trend perilaku di zaman ini. Pada zaman ini, orang yang terpilih sebagai pemimpin belum tentu karena orang tersebut berbudi pekerti yang luhur dan dicintai oleh rakyat. Tapi bisa jadi karena dia punya uang. Sebab kemenangan saat ini bisa dibeli dengan uang dan dengan strategi politik yang lihai serta jitu.

Berangkat dari hipotesa tersebut di atas, Laskar Hijau mencoba untuk membangun organisasinya dari kultur yang luhur melalui cara yang jujur. Watak kerelawanan, semangat kegotong-royongan, kesetiaan terhadap perjuangan, ketegasan dalam membela kebenaran, tenggang rasa kepada kawan, ketulusan dalam berbuat, kejujuran dalam bertindak dan berbicara, akan menjadi ukuran dalam berproses bersama di Laskar Hijau. Tentu, mereka sepenuhnya sadar bahwa cara ini memang bukan cara yang populer untuk saat ini dan Laskar Hijau paham betul pada konsekwensi yang bakal dihadapinya, seperti tak sedikitnya orang yang tertarik untuk bergabung dengan organisasi ini, bahkan sudah hampir sepuluh orang yang keluar dari Laskar Hijau dalam kurun waktu satu tahun ini. Tapi bagi Laskar Hijau, sedikit orang itu bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa. Dan mereka telah membuktikannya berulang kali. Karena kecil itu indah.

CATATAN-CATATAN KE DEPAN

Pelestarian hutan di Gunung Lemongan ini tidak cukup hanya dengan menanami kembali hutan yang telah luluh lantak, tapi juga perlu adanya perlindungan secara konperehensif terhadap kawasan yang sudah ditanami tersebut. Kelak kalau pohon-pohon ini sudah besar dan berbuah, sangat memungkinkan muncul ancaman-ancaman terhadap kelestarian hutan di Gunung Lemongan ini, seperti kemungkinan terjadinya kembali praktek Illegal Logging, perampasan dan atau penguasaan oleh kekuatan modal maupun oligarki yang hanya mementingkan dirinya sendiri, juga tidak menutup kemungkinan terjadinya perebutan antar warga masyarakat sendiri.

Oleh karena itu agar supaya kedepan Gunung Lemongan tetap lestari maka perlu dilakukan beberapa upaya advokatif agar supaya Gunung Lemongan ini dilindungi secara hukum. Bentuk perlindungan hukum terhadap Gunung Lemongan yang diharapkan terwujud oleh Laskar Hijau adalah lahirnya sebuah kebijakan yang menetapkan dan mengukuhkan Gunung Lemongan sebagai kawasan Hutan Lindung dan atau Taman Nasional sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Selain perlindungan hukum, penting juga untuk diwujudkan perlindungan ekologis dari masyarakat sekitar terhadap pelestarian hutan Gunung Lemongan. Pewujudan perlindungan ekologis dari masyarakat ini memang butuh waktu yang sangat panjang, terutama dalam proses membangun kesadaran warga masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian ekosistem di Gunung Lemongan ini.

Hal lain yang juga tak kalah pentingnya untuk mulai dipersiapkan oleh Laskar Hijau adalah pemenuhan kebutuhan logistik untuk menjaga agar gerakan ini tetap berkelanjutan hingga mencapai target yang diharapkan. Dalam hal ini Laskar Hijau harus memiliki sumber pendanaan mandiri yang mampu mengcover kebutuhan untuk gerakan konservasi ini. Setidaknya Laskar Hijau memiliki sebuah usaha produktif yang mampu menghasilkan pendapatan untuk membiayai kegiatannya namun tak banyak menyita waktu Laskar Hijau sendiri. Waktu 15-20 tahun bukanlah waktu yang sebentar, tentu akan diperlukan supply logistik yang mencukupi untuk menjaga ”metabolisme” gerakan rakyat ini.

PENUTUP

Apa yang dilakukan oleh Laskar Hijau di Gunung Lemongan adalah sesuatu yang kecil dan biasa-biasa saja. Namun demikian sesuatu yang kecil tersebut bila dikerjakan dengan penuh kesungguhan, ketulusan, kesetian, dan cinta kasih pasti akan menghasilkan sesuatu yang indah. Tak lebih dan tak kurang, sesederhana ungkapan penyair Chairil Anwar : “Sekali Berarti Sesudah Itu Mati”.



[1] Ranu adalah Danau Vulkanik yang sumber mata airnya bukan dari bawah tanah melainkan dari atas / dari

sumber mata air yang berasal dari tangkapan air hujan.

[2] Ranu Wurung adalah istilah untuk Ranu yang tidak digenangi air. Kalaupun ada sangat kecil debitnya.

[3] Carok adalah cara duel ala masyarakat Madura dengan menggunakan Clurit sebagai senjatanya

[4] Nyanyian khas masyarakat Madura yang syairnya improvisasi dari keadaan di sekitar pada saat itu

[5] Sehat Tanpa Obat dengan Tusuk Jarum ala Indonesia, Oleh Gunawan Ismail, Terbitan PT. Grasindo, 2009

[6] http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/07/15430229/umbul.donga.ijo.royo.digelar.di..klakah

[7] http://laskarhijau.ning.com/profiles/blogs/apakah-itu-substansinya

[8] http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/14/15452579/Gerakan.Orang.Muda.Penyelamat.Hutan

[9] http://www.thejakartapost.com/news/2010/05/25/mt-lemongan-locals-bring-nature-back-life.html



0 komentar:

Posting Komentar