"I say never be complete. I say stop being perfect. I say let's evolve. Let the chips fall where they may." —Fight Club

Rabu, 11 Mei 2011

Review: Consuming Kids (Proyek Pemutaran Film Anti Kapitalisme Global)

Sutradara : Adriana Barbaro & Jeremy Earp
Produksi : Media Education Foundation
Tahun : 2008
Durasi : 67 menit
Bahasa : Inggris
Subtitle : Indonesia

Amerika mengalami ledakan populasi sangat besar di pertengahan abad ini, hingga kini mencapai 52 juta anak yang berusia di bawah 12 tahun. Dan tak perlu diragukan lagi bahwa bagi para pebisnis, anak-anak ini merupakan lahan paling subur untuk membangun imperium pasar.

Film ini mengupas bisnis perdagangan yang mentransformasikan dunia anak-anak menjadi komoditi-komoditi yang mampu menghasilkan profit maksimum. Jika ditelisik lebih mendalam, daya beli anak-anak semakin meningkat, jumlah pengeluaran yang mereka belanjakan mulai dari pakaian, mainan, musik, video games hingga piranti-piranti elektronik mencapai lebih dari 40 juta dollar setiap tahun. Namun, mungkin alasan yang paling menggoda minat para pemasar maupun pengiklan adalah jumlah yang dibelanjakan oleh orang dewasa untuk anak-anak ini secara langsung dapat menyodok angka sebesar 700 juta dollar, setara dengan total GDP dari 115 negara dan wilayah miskin di dunia. Para pebisnis ini menyadari bahwa keutamaan pasar anak-anak ini terletak pada dua hal pokok: kekuatan dan pengaruh untuk membeli.

Ada banyak sekali merek-merek bermunculan di hadapan anak-anak. Mereka dibombardir ribuan iklan komersial setiap hari, setiap bulan. Bahkan anak-anak ini menjadi model bagi iklan-iklan tersebut, dan inilah bukti nyata bahwa anak-anak dapat dengan mudah menarik minat teman-temannya atau anak-anak lainnya yang menonton televisi agar membeli produk yang sama.

Dalam film ini disajikan beberapa potongan iklan-iklan tersebut, seperti iklan otomotif yang menampilkan adegan seorang anak perempuan berdiri di depan kelas dan terlihat seperti akan melakukan tanya jawab setelah presentasi pelajaran namun ternyata ia sedang mempromosikan mobil keluaran terbaru kemudian membuat teman-teman sekelasnya berebut untuk naik dan merasakan langsung kecanggihan teknologi di dalamnya. Anak-anak yang berpose memamerkan pakaian berharga ratusan dollar hasil rancangan desainer kondang seperti Calvin Klein, Dior atau Ralph Lauren. Atau adegan seorang anak lelaki yang mengamuk kemudian menangis hingga bergulung-gulung di lantai supermarket karena sang ayah tidak mau membelikannya sebungkus snack yang ia inginkan. Akibatnya orang-orang dewasa di sekitarnya menoleh ke arah sang ayah dengan muka masam.

Membuat para orang tua nampak menyedihkan.

Tetapi bukan berarti mereka murni tidak bersalah, realita justru menunjukkan bahwa sekarang ini banyak orang-orang dewasa yang juga memberikan pelajaran kepada anak-anaknya bahwa “hidup adalah tentang membeli, hidup adalah tentang mendapatkan sesuatu (barang).

Banyak sekali dari produk-produk ini yang sesungguhnya tidak memberikan manfaat atau esensi apapun, bahkan tidak tergantung dari rasa atau kegunaannya, tetapi lebih dipandang sebagai sesuatu yang dapat memberikan status, nilai atau posisi sosial. Lihatlah bagaimana sepanjang hari anak-anak selalu disodori dengan slogan-slogan iklan yang mendorong mereka untuk sering berbelanja.

Agar tampak cool, pakailah sepatu Airators,

makanlah Cheetos dan minum Pepsi!

Salah seorang kontributor dalam film ini, Velma LaPoint, mengemukakan bahwa ada sebuah mantra yang berlaku dalam masyarakat Amerika:

Kamu adalah apa yang kamu punya, kamu adalah apa yang kamu beli,

kamu adalah apa yang kamu dapatkan.

Dan jika kamu tidak memilikinya, maka kamu bukanlah apa-apa.

Kamu tidak menghargai dirimu sendiri.

Kegilaan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat Amerika, sedari kecil anak-anak di seluruh penjuru dunia telah mengalami teror serupa. Menjadi hal yang biasa saat anak-anak merasa tidak percaya diri karena tidak memakai produk-produk yang booming di pasaran. Nilai-nilai semacam inilah yang lumrah ditanamkan, bahwa memiliki produk yang terkenal dapat membuat kita bahagia.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan memiliki barang-barang bagus, tetapi juga jangan melakukan kesalahan untuk membuatnya menjadi standar kebahagiaan atau kepuasan.

Kapitalisme telah berhasil merasuki setiap sendi keseharian manusia, tak luput anak-anak. Ajang komersialisasi dunia anak-anak telah menembus kehidupan mereka, secara mendalam telah menyusup dan mendekonstruksi sisi psikologis mereka. Selalu digembalakan oleh selera pasar, orang-orang dewasa yang memiliki pengaruh dan otoritas terhadapnya, para pelaku industri, selebritas, termasuk para pengajar serta orang tua mereka sendiri. Kapitalisme telah menyusup ke dalam banyak rupa, melalui kelucuan tokoh-tokoh animasi Walt Disney, figur-figur Nickelodeon yang aneh dan eksentrik, kegagahan Kura-Kura Ninja dan pasukan robot Transformers, kedahsyatan perang Star Wars hingga sosok-sosok yang sesungguhnya nampak menyeramkan seperti Chewbacca dan Hulk. Semuanya termanifestasikan ke dalam bermacam-macam produk, seperti pakaian, boneka, gelas, mangkok, piring, buku, tas, pernak-pernik, dan banyak lagi lainnya.

Anak-anak ‘dikonsumsi’ untuk menciptakan komoditi-komoditi berdaya saing yang kemudian ditawarkan lagi kepada mereka. Semakin menunjukkan dengan jelas bahwa anak-anak kita sekarang ‘dibesarkan’ oleh perusahaan.

0 komentar:

Posting Komentar