"I say never be complete. I say stop being perfect. I say let's evolve. Let the chips fall where they may." —Fight Club

Senin, 18 April 2011

Untuk Menjadikan Marx Suci Mereka Harus Menghapus Orang Yang Sebenarnya

Laki-laki dengan kacamata rabunnya yang besar tersenyum, “Kita naik kereta api supaya bisa melihat bagaimana rakyat hidup. Apakah kau membawa serta makanan kaleng?”

Laki-laki kecil bertubuh gemuk tertawa ramah, “Perutku ini payah. Makanan rakyat kita termasuk yang paling tidak higienis di planet ini. Di Barat, air yang mengalir jauh lebih bersih dibandingkan air mineral dalam botol di negara kita.”

“Jadi sekarang ada kontradiksi,” yang mengenakan kacamata rabun besar dengan tajam mengolok-olok. “Kau ingin menikmati semua kesenangan yang diberikan oleh peradaban tanpa mau mengangkat jarimu untuk membangunnya!”

“Membangun peradaban sangatlah sulit. Tetapi tidak begitu dengan memberi jaminan kepada sejumlah kecil orang suatu kehidupan yang beradab. Mengapa? Karena tidak ada yang lebih mudah dari itu. Seperti kukatakan sebelumnya, peradaban adalah perjalanan panjang yang berat. Bagi orang yang seprimitif kita, menggunakan agama untuk menuntun mereka melewati jalan-jalan pintas menuju kemuliaan adalah ratusan kali lebih mudah daripada berusaha membuat mereka beradab.”

Laki-laki berkacamata rabun mengedipkan matanya, “Bukankah itu agak sedikit sinis? Apa yang ingin kau katakan?”

Laki-laki kecil tertawa terpekik-pekik. “Kebenaran mana yang tidak sinis? Anggap dirimu seorang raja, kau lebih memilih memamerkan pakaian bagusmu di podium pada acara parade militer daripada memeras otak berusaha memahami bagaimana caranya menciptakan alat penapis beras baru atau pengolahan manufaktur baru. Di sanalah semua itu akan mengarah, peradaban yang kau impikan.

Hal itu memaksa raja-raja untuk ikut mencari-cari, menjilat kaum intelektual yang arogan dan berubah-ubah. Tidakkah kau lihat? Yang perlu kau lakukan adalah menaiki podium yang bertengger di atas lautan spanduk yang berdesir. Bayonet berkilau di sekelilingmu. Meriam meledak. Itu baru yang dinamakan kesenangan penghabisan. Kepuasan akan kekuasaan. Uang. Cinta. Mengapa, setelah kekuasaan, semua itu tidak ada apa-apanya. Jadi kita memerlukan agama.”

“Tetapi selama bertahun-tahun kudengar kau mengutip Marx, ‘Agama adalah candu bagi masyarakat’.”

Laki-laki kecil bertubuh gemuk bahkan lebih menggelikan lagi, “Kau lucu. Aku ini profesor. Ketika aku menaiki podium, aku memberikan kuliah yang sebelumnya sudah diminta untuk diajarkan kepada mahasiswa. Para pelajar memerlukan makanan ini sama seperti mereka menghapal kata ‘cita-cita’ di luar kepala. Kita bukanlah pengikut. Kau tidak perlu menjadi fanatik. Jika agama adalah racun memabukkan, maka tak seorang pun memerlukan racun itu sebanyak kebutuhan kita padanya!”

Kawan seperjalanannya hanya menganggukkan kepalanya. “Jadi, inilah kesimpulanmu.”

Laki-laki kecil itu memandang kawannya dengan mulut menganga, bingung. “Ternyata kau masih seperti anak sekolahan. Itu yang aku suka darimu. Jadi kau pikir kita ini ateis? Tentu saja bukan! Kita menghancurkan kuil dan mengosongkan pagoda supaya kita bisa menggantungkan foto Marx, menobatkan suatu bentuk ketuhanan baru bagi rakyat. Ingatkah kau akan kampanye pembenaran ideologi angkatan bersenjata? Dengan kader dari tahun 1952 sampai 1953? Apakah kampanye itu memiliki perbedaan dengan pengakuan dosa di gereja? Kita menciptakan dosa. Kita menyiksa diri kita sendiri. Kita bertobat sebagai ganti untuk mendapatkan jiwa yang suci, berharap hal itu akan membawa kita lebih dekat kepada Yang Mahakuasa. Sekarang, ceritanya sama saja.”

Laki-laki kecil itu berhenti, batuk dan mendesah. Kawannya tidak berkata apa-apa. Mereka berdua mulai merokok lagi. Yang kecil menghembuskan beberapa kepulan asap, mengedipkan mata, dan memandang ke arah kawannya, “Pernahkah kau membaca biografi Marx?”

“Ya, hanya kata pengantar dalam buku The Holy Family.”

“Tentu saja! Untuk menjadikan Marx suci mereka harus menghapus orang yang sebenarnya. Kalau aku, aku sudah mengunjungi rumah tempatnya dilahirkan. Aku sudah menandatangani begitu banyak buku tamu di museum yang dipersembahkan baginya. Aku bahkan menaruh rangkaian bunga di atas batu nisannya di Inggris.”

Ia berhenti sejenak dan bersandar ke kawannya, matanya mengerlip, mengejek. Gagang kacamatanya yang berpinggiran emas berkilat di bawah alis matanya yang tipis, “Jelas, orang hebat tidak bisa dinilai berdasarkan kehidupan pribadinya. Tapi, ini sekadar lelucon, tahukah kau seperti apa sebenarnya kehidupan nyata Karl Marx itu? Ia orang dengan moral bejat. Ketika masih menjadi mahasiswa, ia keluyuran ke tempat pelacuran. Ia paling suka gadis gipsi. Pada masa dewasanya, semua orang tahu ia menghamili pembantunya sendiri. Baru ketika ia meninggal istrinya, Jenny, memaafkannya dan mengadopsi anak haram itu. Ha ha ha! Ha ha!” Mereka berdua tertawa berbarengan. Mereka menyeka mata mereka dengan sapu tangan dan mengeluarkan rokok mereka lagi.

- Secuil adegan satir dari buku Novel Tanpa Nama (Novel Without A Name), Duong Thu Huong, Alih Bahasa oleh Sapardi Djoko Damono, IndonesiaTera, 2003, hal. 157-160.

0 komentar:

Posting Komentar