"I say never be complete. I say stop being perfect. I say let's evolve. Let the chips fall where they may." —Fight Club

Tampilkan postingan dengan label anarki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anarki. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2011

hantammassa

Ganti nama lagi..

Ya, kami memutuskan untuk mengganti nama blog ini dengan Hantam Massa.

Kenapa harus ganti?

Kami berpikiran bahwa nama yang lama: Injak Beling, tak lagi merepresentasikan aktifitas-aktifitas yang kini kami giatkan. Selain itu, penggantian ini adalah bentuk penghancuran kemapanan yang seringkali menghambat pergerakan kami ketika berhadapan dengan realitas kehidupan sehari-hari di tempat kami.

Kenapa memilih nama Hantam Massa?

Karena kami adalah sekumpulan individu-individu yang berkumpul bukan untuk membentuk sebuah grup atau kelompok yang berbasiskan massa, tapi berbasiskan pada kesadaran individual bahwa ada yang tidak beres dengan peradaban modern yang dibentuk atas dasar keseragaman, baik dalam cara berpikir maupun cara bertingkah laku. Bagi kami yang terpenting bukan pada banyaknya individu yang berkumpul, tapi lebih pada efektifitas & kapasitas masing-masing individu yang bergerak bersama.

Menurut kami sebuah grup atau komunitas atau kolektif atau afinitas atau apapun sebutan sebuah kelompok yang beranggotakan banyak individu tak akan pernah efektif ketika berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Masalahnya adalah kami lebih mementingkan kualitas daripada sekedar kuantitas, apalagi jika urusannya adalah dengan massa, yang sebenarnya terdiri atas individu-individu.

Massa bagi kami tak ada bedanya dengan sekumpulan domba yang bodoh & terjebak pada ilusi peradaban modern yang merusak kehidupan. Massa adalah mayoritas manusia yang gampang dikendalikan oleh sistem dominan yang menghendaki keteraturan demi penguatan kekuasaan. Bagi sistem yang dominan, massa adalah budak yang bekerja demi keuntungan segelintir manusia yang berkuasa atas modal & teknologi.

Bagi kami perlawanan terhadap sistem yang dominan, yang bersifat hirarki & otoriter haruslah dihadapi dengan kebebasan individual yang otonom. Perebutan kendali hidup haruslah dimulai dari pembebasan individual dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi individual yang terus menerus akan lebih efektif apabila dibandingkan dengan pengerahan massa yang berlebihan. Massa haruslah dihantam, agar tercerai berai & tersadar bahwa mereka besar dalam jumlah, tapi tak berarti apa-apa. Mereka hanyalah budak-budak peradaban modern yang secara sukarela memilih penjaranya sendiri.

Maka kami lebih percaya bahwa tumbuh suburnya kolektif-kolektif atau grup otonom yang tak berbasiskan massa akan membawa efek yang signifikan bagi perlawanan terhadap sistem yang dominan. Solidaritas & perlawanan akan lebih mudah dibangun apabila setiap grup otonom saling bekerja bersama, membangun sebuah jaringan yang kuat berbasiskan asosiasi bebas setiap individu. Tak ada pemaksaan, tak ada pembatasan, semua bebas untuk memilih perlawanan apa yang paling efektif untuk dilakukan. Setiap individu bebas untuk mengendalikan kehidupannya sendiri.

Ok kawan-kawan, cukup ini yang bisa kami sampaikan sebagai bentuk alasan kami untuk berubah nama. Sampai jumpa di perang peradaban.

Rage & Love & Gaul..!!!


Sabtu, 11 Juni 2011

JANGAN MAU DIKONTROL, LAKUKAN SENDIRI!

“If there’s someplace you wanna be, go there yourself.
If there’s you wanna create that does not exist, do it yourself.”
-- Brian Baker, ex-Minor Threat

“Make your own culture and stop consuming
that which is made for you”
-- The Essence of Do-It-Yourself

D.I.Y atau Do-It-Yourself adalah etos/sikap yang muncul pada kisaran tahun 1970-an, dan kemudian menjadi semakin populer seiring dengan semakin berkembangnya kultur hardcore/punk. Berawal dari gumpalan keresahan dan kebosanan generasi muda pada saat itu terhadap dominasi budaya mainstream yang dianggap membatasi kebebasan untuk berekspresi, etos D.I.Y bergerak menjadi sebuah kultur tandingan (counter culture) guna mendobrak kemapanan budaya. Berawal dari musik kemudian berkembang menjadi sebuah gaya hidup, kultur tandingan ini makin merasuk dalam jiwa anak-anak muda yang muak terhadap stagnansi dan keseragaman dunia yang memaksa mereka untuk menjadi individu sempurna seperti apa yang diidealkan oleh masyarakat.

Keresahan tentang apakah hidup hanya akan menjadi sekadar rutinitas. Lahir, sekolah, kerja, hidup mapan lalu berkeluarga, dan pada akhirnya menunggu mati. Apakah itu yang dinamakan hidup dengan penuh makna? Apakah itu hidup dengan menggelorakan semangat? Jadi, apakah hidup hanya untuk disia-siakan?

Ribuan anak-anak muda membuat musiknya sendiri, merekamnya dan kemudian mempublikasikannya secara gratis, membuat gig (acara-acara musik) gratis yang sederhana dengan memanfaatkan berbagai ruang kosong (rumah tak berpenghuni, basement apartemen, gudang, garasi bahkan jalanan umum). Mereka hidup dengan apa yang mereka yakini dan menolak tunduk terhadap aturan maupun norma-norma yang jamak berlaku di masyarakat. Mereka merasa bahwa apa yang tersaji di hadapan mereka seringkali hanyalah sekumpulan imaji absurd yang pada akhirnya menciptakan keterasingan (alienasi) antar manusia. Sedangkan yang mereka inginkan adalah untuk merebut kehidupannya, dengan cara mereka sendiri. Inilah etos Do-It-Yourself, lakukan sesuatu dengan segala kemampuanmu sendiri, ambil keputusan oleh dirimu sendiri, tidak menunggu orang atau pihak lain untuk memerintah dan mengontrol dirimu, berkreasilah semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri dan orang-orang yang kamu sayangi!

Pada titik itulah, D.I.Y menjelma sebagai sebuah prinsip serta praktek hidup keseharian. Etos D.I.Y mulai berevolusi lebih dari sekadar membuat musik kemudian mempublikasikannya secara gratis. D.I.Y menjelma ke dalam berbagai praktek seperti penerbitan media alternatif, menciptakan ruang-ruang belajar gratis, perpustakaan bersama, membangun pusat kegiatan untuk tempat berkumpul, bermain, bersenang-senang, dan sebagainya. D.I.Y bukan lagi sekadar alternatif budaya (atau budaya alternatif), tetapi lebih menjadi etos tandingan untuk menjalani hidup. Bukan sekadar Budaya Perlawanan (Counter-Culture), tetapi telah menjadi Perlawanan Budaya (Contra-Culture). Satu hal yang perlu digarisbawahi ialah meskipun D.I.Y berangkat dari pilihan-pilihan individual namun tetap membutuhkan kerjasama dengan orang-orang lain yang sepaham untuk mewujudkannya menjadi aksi nyata.

D.I.Y mengacu pada etos kemandirian yang mendasarkan diri pada pemahaman bahwa manusia hidup untuk saling melengkapi, dimana setiap individu yang memiliki kapasitas maupun kemampuan yang berbeda dalam berbagai bidang saling berbagi keahlian. Etika dasar ini mengembangkan sebuah pemikiran dan keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil untuk dilakukan apabila kita mau saling belajar, menjaga dan melengkapi satu sama lain. Sebab D.I.Y menekankan pada prinsip-prinsip kerjasama yang saling menguntungkan (mutual aid), kebersamaan, solidaritas dan kebebasan.

D.I.Y adalah kontra kultur terhadap kultur dominan. Realisasi nyata D.I.Y secara sadar bergerak menuju aksi perlawanan terhadap sistem kapitalis yang kini memenuhi ruang hidup kita. Sebagai sebuah bentuk perlawanan, kultur D.I.Y jelas bertolak belakang dengan kultur kapital. Apabila kapitalisme kini semakin mengglobal dan mendasarkan dirinya pada kebebasan individu untuk berproduksi maupun mengonsumsi demi akumulasi kapital (tentu saja dengan cara membuat orang lain menjadi budak dan melakukan pencurian terhadap nilai lebih yang dihasilkan oleh budaknya) maka D.I.Y menjauhkan diri dari praktek-praktek untuk mengeruk profit sebanyak-banyaknya. D.I.Y lebih mempercayai kesetaraan dalam memproduksi dan mengonsumsi dimana setiap individu berhak untuk mengakses alat-alat dan proses produksi serta selalu bebas dalam menentukan apa yang benar-benar ia butuhkan untuk dikonsumsi. D.I.Y berusaha mengembalikan proses produksi dan konsumsi menuju akar yang sebenarnya, yaitu sebagai aktivitas untuk bertahan hidup.

Bagi kami makna D.I.Y lebih luas dari sekadar kultur perlawanan. D.I.Y adalah aksi otonom untuk menentukan apa yang paling sesuai dengan kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial, dalam artian setiap manusia membutuhkan manusia lainnya agar tetap eksis sebagai manusia. D.I.Y membiasakan kami untuk saling berkomunikasi, melakukan aktivitas secara bersama sekaigus berusaha menghilangkan ketergantungan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang menciptakan degradasi dan alienasi terhadap hidup keseharian kami. D.I.Y adalah bagaimana menjalankan hidup yang kami pilih dengan usaha sendiri tanpa disetir oleh kepentingan pihak-pihak luar.

D.I.Y adalah sebuah etos untuk tetap menjadi manusia. Ketika sistem dominasi menawarkan segala hal yang instan dan serba cepat, D.I.Y menawarkan tandingan dalam berpikir maupun bertindak, sebab D.I.Y lebih mementingkan proses dan hasil sebagai komposisi yang seimbang, bukan sebagai ukuran untuk menentukan standar manusia.

Memang tak mudah untuk menghidupi diri sendiri berbekal etos D.I.Y mengingat semakin derasnya tekanan sistem kapital yang teru dipaksakan dalam hidup keseharian kita. Tetapi itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. D.I.Y harus dimulai dengan menguatkan rasa percaya terhadap kemampuan diri sendiri. Tidak ada yang tidak bisa kita lakukan jika kita telah meyakini bahwa hidup harus direbut melalui aksi diri sendiri. Dan tentu saja tidak ada yang mustahil jika kita melakukannya bersama-sama.

D.I.Y hanyalah sebuah nama, hanyalah istilah, kita dapat menyebutnya dengan istilah apa saja. Dan kita perlu waspada, seringkali nama atau pelabelan justru menciptakan aturan maupun jebakan yang sesungguhnya tidak perlu ada karena dapat membatasi gerak kita. Sedangkan yang sebenarnya sangat dibutuhkan adalah kontinuitas dalam bergerak dan berkarya. Tiada guna mengusung D.I.Y jika kita malah terjebak dan tidak dapat melepaskan diri dari rutinitas maupun konsep-konsep yang membosankan. Kita seharusnya mengembangkan konsep, bukan sekadar menghidupi konsep. Mempercantiknya dengan hiasan-hiasan yang tidak berguna sama saja dengan mematikannya secara perlahan.

Kita seringkali juga mengabaikan unsur terpenting dalam mempraktekkan D.I.Y, yaitu bersenang-senang. D.I.Y harus lepas dari batasan, bukan membatasi diri dengan norma-norma yang mengekang. Tiada guna jika kita membuat sebuah proyek D.I.Y karena keterpaksaan, atau sekadar mengikuti tren dan mengejar eksistensi belaka. D.I.Y harus muncul melalui inisiatif individual kemudian menyelaraskannya dengan kondisi yang ada. Jika pilihan telah jatuh, konsekwensi seberat apapun harus siap ditanggung. Jika kita telah sadar dengan pilihan tersebut, lakukanlah dengan riang gembira dan bangga sebab kamu telah mengambil alih hidup ke dalam genggaman tanganmu sendiri!

Mengapa? Karena pada dasarnya manusia tidak perlu melakukan sesuatu yang tidak membuatnya bahagia. Namun, akibat tirani kapitalisme kita justru melakukan aktivitas keseharian dengan keterpaksaan. Dan itu sama sekali tidak membuat kita bahagia!

Satu hal yang juga perlu kita pahami, etos D.I.Y sangat rentan untuk digelincirkan dari prinsip-prinsip utamanya. D.I.Y juga banyak dijadikan kedok atau pembenaran demi kepentingan pribadi maupun akumulasi kapital. Jika seperti itu, etos D.I.Y telah terjengkang menjauh dari akarnya. Kamu dapat menemukan bentuk nyatanya di sekitarmu, seperti menjamurnya distro-distro (padahal butik!!) komersial, gigs yang disponsori korporasi, musik yang diproduseri label rekaman besar, publikasi media alternatif yang ternyata dipenuhi iklan-iklan produk namun tak berisi sesuatu yang esensial dan bermanfaat. Apakah itu kemandirian dan kesenangan? Bukan, itu adalah kepalsuan.. D.I.Y akan kehilangan esensinya sebagai etos dan kultur yang sesungguhnya adalah oposisi terhadap budaya mainstream. D.I.Y hanya menjadi sebuah slogan kosong, unsur pemanis agar rasa tawar dan asin lebih mudah dicerna. Hingga akhirnya hanya akan menjerumuskan kita kembali pada keresahan, kebosanan dan jebakan ketertundukan.

D.I.Y adalah aksi yang esensial bagi hidupmu. Jadi mengapa kamu ragu untuk mempraktekkan D.I.Y? Tidak inginkah kamu untuk mampu hidup mandiri? Masihkah kamu tidak percaya bahwa aksi langsung melalui ide dan tenagamu sendiri bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan?

Organisir dirimu sendiri, temukan kawan-kawan yang berpandangan sama denganmu. Kreasikan proyek-proyek kecil nan berarti. Temukan sendiri kunci untuk membuka lebar-lebar pintu kebebasanmu.

Rebut kehidupanmu.
Jadilah manusia.
Selamat bersenang-senang.
Dan sampai jumpa di perang peradaban!


Liberate and be a human being!
Just do-it-yourself or do-it-with-your-friends!

Rabu, 11 Mei 2011

Review: Consuming Kids (Proyek Pemutaran Film Anti Kapitalisme Global)

Sutradara : Adriana Barbaro & Jeremy Earp
Produksi : Media Education Foundation
Tahun : 2008
Durasi : 67 menit
Bahasa : Inggris
Subtitle : Indonesia

Amerika mengalami ledakan populasi sangat besar di pertengahan abad ini, hingga kini mencapai 52 juta anak yang berusia di bawah 12 tahun. Dan tak perlu diragukan lagi bahwa bagi para pebisnis, anak-anak ini merupakan lahan paling subur untuk membangun imperium pasar.

Film ini mengupas bisnis perdagangan yang mentransformasikan dunia anak-anak menjadi komoditi-komoditi yang mampu menghasilkan profit maksimum. Jika ditelisik lebih mendalam, daya beli anak-anak semakin meningkat, jumlah pengeluaran yang mereka belanjakan mulai dari pakaian, mainan, musik, video games hingga piranti-piranti elektronik mencapai lebih dari 40 juta dollar setiap tahun. Namun, mungkin alasan yang paling menggoda minat para pemasar maupun pengiklan adalah jumlah yang dibelanjakan oleh orang dewasa untuk anak-anak ini secara langsung dapat menyodok angka sebesar 700 juta dollar, setara dengan total GDP dari 115 negara dan wilayah miskin di dunia. Para pebisnis ini menyadari bahwa keutamaan pasar anak-anak ini terletak pada dua hal pokok: kekuatan dan pengaruh untuk membeli.

Ada banyak sekali merek-merek bermunculan di hadapan anak-anak. Mereka dibombardir ribuan iklan komersial setiap hari, setiap bulan. Bahkan anak-anak ini menjadi model bagi iklan-iklan tersebut, dan inilah bukti nyata bahwa anak-anak dapat dengan mudah menarik minat teman-temannya atau anak-anak lainnya yang menonton televisi agar membeli produk yang sama.

Dalam film ini disajikan beberapa potongan iklan-iklan tersebut, seperti iklan otomotif yang menampilkan adegan seorang anak perempuan berdiri di depan kelas dan terlihat seperti akan melakukan tanya jawab setelah presentasi pelajaran namun ternyata ia sedang mempromosikan mobil keluaran terbaru kemudian membuat teman-teman sekelasnya berebut untuk naik dan merasakan langsung kecanggihan teknologi di dalamnya. Anak-anak yang berpose memamerkan pakaian berharga ratusan dollar hasil rancangan desainer kondang seperti Calvin Klein, Dior atau Ralph Lauren. Atau adegan seorang anak lelaki yang mengamuk kemudian menangis hingga bergulung-gulung di lantai supermarket karena sang ayah tidak mau membelikannya sebungkus snack yang ia inginkan. Akibatnya orang-orang dewasa di sekitarnya menoleh ke arah sang ayah dengan muka masam.

Membuat para orang tua nampak menyedihkan.

Tetapi bukan berarti mereka murni tidak bersalah, realita justru menunjukkan bahwa sekarang ini banyak orang-orang dewasa yang juga memberikan pelajaran kepada anak-anaknya bahwa “hidup adalah tentang membeli, hidup adalah tentang mendapatkan sesuatu (barang).

Banyak sekali dari produk-produk ini yang sesungguhnya tidak memberikan manfaat atau esensi apapun, bahkan tidak tergantung dari rasa atau kegunaannya, tetapi lebih dipandang sebagai sesuatu yang dapat memberikan status, nilai atau posisi sosial. Lihatlah bagaimana sepanjang hari anak-anak selalu disodori dengan slogan-slogan iklan yang mendorong mereka untuk sering berbelanja.

Agar tampak cool, pakailah sepatu Airators,

makanlah Cheetos dan minum Pepsi!

Salah seorang kontributor dalam film ini, Velma LaPoint, mengemukakan bahwa ada sebuah mantra yang berlaku dalam masyarakat Amerika:

Kamu adalah apa yang kamu punya, kamu adalah apa yang kamu beli,

kamu adalah apa yang kamu dapatkan.

Dan jika kamu tidak memilikinya, maka kamu bukanlah apa-apa.

Kamu tidak menghargai dirimu sendiri.

Kegilaan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat Amerika, sedari kecil anak-anak di seluruh penjuru dunia telah mengalami teror serupa. Menjadi hal yang biasa saat anak-anak merasa tidak percaya diri karena tidak memakai produk-produk yang booming di pasaran. Nilai-nilai semacam inilah yang lumrah ditanamkan, bahwa memiliki produk yang terkenal dapat membuat kita bahagia.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan memiliki barang-barang bagus, tetapi juga jangan melakukan kesalahan untuk membuatnya menjadi standar kebahagiaan atau kepuasan.

Kapitalisme telah berhasil merasuki setiap sendi keseharian manusia, tak luput anak-anak. Ajang komersialisasi dunia anak-anak telah menembus kehidupan mereka, secara mendalam telah menyusup dan mendekonstruksi sisi psikologis mereka. Selalu digembalakan oleh selera pasar, orang-orang dewasa yang memiliki pengaruh dan otoritas terhadapnya, para pelaku industri, selebritas, termasuk para pengajar serta orang tua mereka sendiri. Kapitalisme telah menyusup ke dalam banyak rupa, melalui kelucuan tokoh-tokoh animasi Walt Disney, figur-figur Nickelodeon yang aneh dan eksentrik, kegagahan Kura-Kura Ninja dan pasukan robot Transformers, kedahsyatan perang Star Wars hingga sosok-sosok yang sesungguhnya nampak menyeramkan seperti Chewbacca dan Hulk. Semuanya termanifestasikan ke dalam bermacam-macam produk, seperti pakaian, boneka, gelas, mangkok, piring, buku, tas, pernak-pernik, dan banyak lagi lainnya.

Anak-anak ‘dikonsumsi’ untuk menciptakan komoditi-komoditi berdaya saing yang kemudian ditawarkan lagi kepada mereka. Semakin menunjukkan dengan jelas bahwa anak-anak kita sekarang ‘dibesarkan’ oleh perusahaan.

Proyek Pemutaran Film Anti Kapitalisme Global


Lihatlah!

Betapa banyak barang yang diperlukan

orang Athena untuk hidup!

— Socrates

Perkembangan dunia yang dinamis saat ini justru menuju sebuah kondisi yang kian menyempit. Dunia tak ubahnya sebuah desa global dimana segala macam informasi, teknologi, kebudayaan dan modal bergerak begitu cepat melewati batas-batas negara. Segala hal kini semakin mudah diakses, tak lagi membutuhkan waktu yang lama. Para pendukung globalisasi beranggapan bahwa sistem ini merupakan pemicu meningkatnya kemakmuran dan kesejahteraan seluruh warga dunia. Namun, pada kenyataannya globalisasi tidak hanya membawa kemajuan tetapi juga memunculkan ekses-ekses yang tidak menguntungkan. Globalisasi ternyata membawa dunia ke dalam kondisi yang tidak pasti, penuh dengan ketimpangan dan bersifat hegemonik. Salah satu dampak dari globalisasi adalah munculnya budaya konsumtif dan masyarakat konsumen yang eksistensinya dapat diukur dari seberapa banyak barang yang dikonsumsi secara terus menerus hanya berdasarkan tanda maupun status sosial yang tersimpan didalamnya.

Masyarakat konsumen adalah masyarakat yang eksistensinya dapat dilihat dari diferensiasi komoditi yang dikonsumsi. Mereka, dengan budaya konsumtif yang dipegangnya, hanya melihat tujuan dan totalitas hidupnya dalam kerangka atau logika konsumsi. Masyarakat konsumen tak lagi membeli komoditi untuk kebutuhan bertahan hidup melainkan berdasarkan citra yang digambarkan dalam iklan-iklan demi peningkatan status sosialnya ketika membeli sebuah produk. Mereka terjebak dalam arus konsumerisme yang kemudian meningkat semakin parah menjadi pola konsumtivisme.

Konsumerisme adalah tatanan sosial dan ekonomi yang secara sistematis memacu keinginan masyarakat untuk terus menerus membeli barang dan jasa dalam jumlah yang semakin besar. Sedangkan konsumtivisme adalah kondisi yang secara sadar dipilih oleh masyarakat konsumen untuk terus menerus mengkonsumsi. Ketika masyarakat konsumen semakin berlebihan dalam mengonsumsi maka pada taraf itulah mereka cenderung berubah menjadi lebih konsumtif. Ketika masyarakat konsumen semakin konsumtif maka cenderung teralienasi dari realitas kehidupan yang sesungguhnya hanya mengenai masalah bertahan hidup.

Bagi kami, peradaban modern yang berbasis pada pembangunan masyarakat konsumen ibarat sesosok “Monster Leviathan[1]”, yaitu kekuatan raksasa yang hegemonik dan berpotensi menghancurkan sendi-sendi dasar kemanusiaan. Masyarakat konsumen tak lagi hidup dengan bahagia tetapi jatuh dalam kesemuan sekaligus kesuraman, karena semakin jauh dari makna relasi sosial yang egaliter. Mereka terus menerus diteror untuk membeli dan terus membeli. Dan untuk itu mereka harus bekerja keras sepanjang hari. Tak ubahnya seperti budak yang bekerja mati-matian kemudian menghabiskan uang hasil jerih payahnya untuk membeli berbagai macam barang. Apabila budak-budak jaman dahulu bekerja karena terpaksa, budak-budak modern justru bekerja dengan sukarela demi melahap produk-produk yang diciptakan lewat imaji-imaji semu. Mereka bekerja, mengonsumsi kemudian mati.

Masyarakat konsumen adalah masyarakat yang sakit. Dikatakan sakit apabila masyarakat hanya memiliki satu tujuan dalam kehidupannya. Artinya, segala segi kehidupannya hanya diarahkan kepada keberlangsungan serta peningkatan sistem yang telah ada (dalam hal ini adalah kapitalisme global). Masyarakat konsumen dibentuk untuk terus menerus mengonsumsi tanpa batas. Manusia konsumen adalah manusia pemangsa. Menghancurkan alam, lingkungan dan tatanan sosial budaya. Semua hanya berkisar dalam arus berproduksi dan mengonsumsi. Manusia modern adalah manusia budak, yang bekerja keras untuk menjalankan sistem demi keuntungan segelintir manusia yang serakah.

Kami menolak menjadi budak yang bekerja keras demi memuaskan hasrat untuk mengonsumsi tanpa batas. Kami menolak kecenderungan untuk menjadi masyarakat konsumen. Kami memilih untuk mengonsumsi secara minimalis, yaitu sebatas pada komoditi yang benar-benar kami butuhkan. Kami memilih untuk menentukan sendiri apa yang kami butuhkan, tanpa terdistorsi dari imaji-imaji yang diciptakan untuk membuat manusia tunduk dan menyerah pada nasibnya. Kami menolak menjadi budak yang dengan sukarela menyerahkan hidupnya untuk diperas sampai kisut dan kemudian tercampakkan bagai sampah oleh sistem dominan yang hanya mementingkan keuntungan segelintir manusia yang memiliki kelebihan modal daripada manusia lainnya.

Proyek pemutaran film anti masyarakat konsumen ini adalah bentuk keengganan kami untuk menjadi bagian dari masyarakat modern yang konsumtif. Kami ingin berbagi keresahan dengan banyak orang bahwa di sekitar kita terdapat “Monster Leviathan” yang akan merampas kehidupan manusia. Sistem dominasi hari ini bukanlah sistem yang muncul tiba-tiba tetapi merupakan sistem yang terus menerus berkembang menjadi lebih kuat.

Perlawanan tak bisa direalisasikan hanya dengan menggerutu, mengkritik, berdiskusi sambil menguliti teori-teori revolusioner. Tetapi butuh aksi yang terus menerus dan makin meluas. Bagaimana melawan raksasa yang besar, sedangkan kita adalah individu-individu kecil yang tersebar dimana-mana. Butuh ledakan-ledakan kecil untuk menciptakan retakan dimana-mana dan secara perlahan mampu membakar sang “Monster Leviathan”. Hanya dengan api yang besar ia dapat dikalahkan. Ia bukan hanya harus ditaklukkan, tapi untuk dihancurkan.

Mari kita nyalakan api dimana-mana!



[1] Di dalam Alkitab (Injil), terdapat sebuah istilah yaitu “Leviathan”, digambarkan sebagai sesosok monster laut raksasa. Thomas Hobbes juga pernah mengilustrasikan Leviathan sebagai fenomena dimana negara menjadi ekspresi terluhur dari kekuatan yang demikian agung. Keduanya menyajikan interpretasi yang begitu menakutkan. Di lain pihak, istilah Leviathan juga dipakai oleh Fredy Perlman untuk menggambarkan “peradaban” (dalam bukunya “Against His-story, Against Leviathan”), dalam artian sesuatu yang memiliki kekuatan dahsyat dan cenderung destruktif.

Sabtu, 23 April 2011

Proyek Pemutaran Film Anti Globalisasi


Globalisasi adalah suatu proses dimana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait dan mempengaruhi satu sama lain melampaui batas-batas negara. Proses ini kemudian ditandai dengan munculnya globalisasi pasar, investasi dan proses produksi dari perusahaan-perusahaan transnasional dengan dukungan lembaga-lembaga finansial internasional yang diatur melalui organisasi perdagangan global bernama WTO.

Bagi para pendukungnya, globalisasi dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat dunia. Tetapi pada kenyataannya globalisasi justru melahirkan persoalan-persoalan mengenai keadilan sosial, lingkungan hidup dan HAM, terutama di negara-negara Dunia Ketiga yang secara ekonomi maupun sosial masih jauh terbelakang dibandingkan dengan negara-negara maju yang jauh lebih modern dan mapan. Namun pada kenyataannya Globalisasi memunculkan permasalahan-permasalahan mengenai keadilan sosial dan Hak asasi manusia.

Bagi kami, globalisasi adalah penyeragaman atas nama akumulasi modal. Banyak hal yang dulu bisa dinikmati secara gratis dan menjadi hak setiap manusia, kini dianggap sebagai sebuah komoditas yang harus dibeli. Air, pangan, kesehatan, pendidikan, perumahan dan berbagai kebutuhan dasar manusia lainnya kini menjadi barang dagangan yang hanya ditujukan untuk meningkatkan nilai kapital. Kini manusia tak ubahnya mesin-mesin yang perputaran hidupnya hanya untuk bekerja dan mengkonsumsi. Manusia kini hidup di dunia yang didominasi oleh sebuah sistem perdagangan totaliter. Dunia semakin menunjukkan ketidakberesan yang berujung pada keresahan dan kebosanan.

Selain itu, kita sudah menjadi terbiasa melihat, mendengar dan membaca permasalahan lingkungan, ekonomi dan sosial yang diakibatkan oleh persekongkolan negara dan korporasi dalam mengeruk profit. Alam kita telah menjadi rusak dan tidak seimbang. Sebut saja kasus yang terjadi di Sumatra Utara seperti Indorayon (1996), Teluk Buyat (1998), Petani Persil IV dengan PTPN II di Deli Serdang (2006). Kita bisa melihat juga apa yang terjadi di wilayah Jawa seperti Jakarta dengan pengusurannya yang tiada henti atas nama pembangunan, Garut dengan Serikat petani Pasundan (1999), Kulon Progo (2010), Pati (2008) dan Rembang dengan Semen Gersik (2010), Porong dengan Lumpur Lapindo (2006). Hingga wilayah Timur yaitu Wera (Bima–Nusa Tenggara Barat) dalam menentang masuknya tambang pasir besi dan Papua dengan Freeport, BP Migas, dan kini mega proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estated) yang melibatkan puluhan investor asing, lokal, investasi triliunan dan lahan yang sangat luas.

Permasalahan di atas dihasilkan melalui persekongkolan antara Perusahan (Korporasi) dan Pemerintah (Negara) dengan mengatasnamakan keuntungan (profit). Sadar atau tidak permasalahan ini akan menimpa kita yang berada disini nantinya. Sadar atau tidak kita menjadi bagian yang terkait dekat dalam sistem ini. Kenyataan-kenyataan di ataslah yang menjadi alasan kami untuk menggalang solidaritas dan menggiatkan kampanye untuk melawan dominasi modal yang terus mengalienasi kehidupan manusia dari kemanusiaannya ke tataran yang lebih luas lagi. Mereka disana berjuang untuk keberlangsungan hidup keluarganya, sedangkan kita disini juga menikmati apa yang dihasilkan oleh mereka, maka sudah selayaknya pula kita mendukung dan melakukan sesuatu untuk perjuangan yang mereka lakukan.

Kegiatan pemutaran film anti globalisasi ini adalah salah satu bentuk solidaritas kami terhadap perlawanan-perlawanan lokal yang terus bermunculan melawan dominasi sistem globalisasi. Kami hanya ingin berbagi keresahan, bahwa ada yang tak beres dengan dunia ini. Mengenai apa yang kemudian kalian pilih untuk melakukan resistensi, itu tergantung persepsi kalian sendiri mengenai kehidupan yang kalian jalani.

Solidaritas dan Perlawanan, sekarang atau tidak sama sekali!!!

Rabu, 13 Mei 2009

REPORTASE: Merayakan Kehancuran

MERAYAKAN KEHANCURAN
Sebuah Pameran, Workshop, & Pementasan Mini.
Malang, 23-24 April 2009.


PRAKATA
Terus terang latar belakang dari diorganisirnya acara ‘berbau punx’ ini macam-macam. Masing-masing individu yang terlibat sedari awal mempunyai alasan serta ekspektasi yang berbeda. Yang jelas bahwa acara yang dirancang ini nantinya bukan berupa acara gebrak-gebruk musikal belaka, melainkan akan lebih menampilkan sisi atau sudut-sudut lain dari aktifitas komunitas minor yang selama ini banyak diidentifikasi dengan istilah punx, meskipun secara langsung maupun tidak juga muncul keinginan melepas label-label tersebut. Maka menu utama yang akan disajikan nantinya adalah berupa aksi transfer kreatifitas, adu spontanitas, dan bagi-bagi semangat, yang dikemas dalam sebuah workshop bersama, dengan pameran dan pementasan mini sebagai pancingnya. Tujuan singkatnya adalah kami ingin membuka ruang-ruang ekspresi di tengah berkecamuknya kehancuran global, dimana setiap orang semakin nampak menjadi mesin dan kehilangan hasrat kemanusiawiannya. Maka dipilihlah judul: Merayakan Kehancuran.

Lalu disusunlah draf acara lengkap beserta kemungkinan siapa para peserta yang nantinya akan berpartisipasi. Untuk tempat, setelah melakukan sekian survey dan pertimbangan, dipilihlah sebuah galeri sederhana bernama MAMIPO (Malang Meeting Point) yang berada di jalan Kediri 04 Malang dengan kesepakatan antara teman-teman dan pemilik tempat mengenai sewa sebesar rp. 100.000,- untuk dua hari pemakaian tempat. Sebuah lokasi yang terhitung baru di Malang dan sebenarnya lebih difokuskan untuk pameran-pameran atau kegiatan berbau fotografi. Sayangnya, baru diketahui kemudian setelah pameran berlangsung bahwa banyak orang tidak tahu dimana letak Jalan Kediri ini karena memang tidak ada papan tulisan jalan tersebut, hingga banyak teman yang rencananya langsung menuju ke MAMIPO harus tersesat dan berkali-kali harus bertanya.

Untuk publikasi acara sendiri sebenarnya terhitung terlambat, berhubung sangat kurangnya koordinasi dari panitia yang bersangkutan. Belum lagi tentang masalah teknis pembuatan pamflet/flyer. Misalnya tentang perlu atau tidaknya pencantuman logo atau simbol dari pihak-pihak yang berpartisipasi. Menurut saya walaupun sebuah acara diorganisir secara DIY bukan berati segala output publikasinya harus bersih dari segala ‘simbol-simbol dagang’. Yang terpenting sebenarnya adalah kesadaran dengan siapa kita berhubungan dan bagaimana sistem yang kita atau mereka pakai. Akhirnya setelah melalui pembenahan disana dan disini sebuah cetak biru flyer-pun dianggap layak edar, yang disampaikan melalui tempelan, sms, friendster, facebook, atau juga myspace meskipun sangat terlambat. Satu hal lagi disamping banyak hal lain yang seharusnya bisa menjadi koreksi teman-teman jika melakukan pengorganisiran apapun memang harus dipersiapkan dengan matang dan dilakukan dengan serapi mungkin hingga tidak perlu lagi kedodoran seperti kali ini. Proses belajar biasanya memang baru dimulai saat individu-individu yang terlibat sudah terbentur dengan realitas yang mesti dihadapi, dan semoga kenyataan yang terjadi selama menjelang dan saat pameran bisa menjadi pengalaman dan pelajaran yang bisa diambil hikmahnya untuk berubah esok hari. Semoga….


HARI PERTAMA : Kamis, 23 April 2009
Pagi hari sewaktu mulai memasang display hasil karya woodcut ternyata sudah menunggu beberapa orang tamu pertama: serombongan orang-orang dari Jakarta. Tepatnya dari Lembaga Litbang, Depdikbud, Jakarta yang malam sebelumnya sudah konfirmasi untuk mampir di pameran kali ini. Iya, ini adalah orang-orang utusan pemerintah yang sebelumnya sudah mampir ke teman-teman di Surabaya dan Sidoarjo. Nampaknya mereka mendapat informasi mengenai pameran ini dari teman di Surabaya hingga akhirnya mampir ke Malang. Katanya sih mereka sedang dalam rangka penyusunan buku mengenai budaya kontemporer berikut pertahanan komunitas yang terlibat di dalamnya secara ekonomi. Ah saya tak terlalu ambil pusing, ribet banget istilahnya. Di sela-sela liputan mereka saya sempat iseng bertanya, “kok nggak meneliti komunitas dangdut aja misalnya..?!,” tapi jawaban singkat mereka cukup membuat saya terpana, “ah, dangdut nggak punya ideologi!” Whuooww.. tapi saya jadi mikir lagi: emang punk punya ideologi ya?!! Trus rhomairama-isme bukankah itu ideologinya dangdut? Hehee.. gimana menurut kamu?

Hari pertama yang digelar adalah pameran karya dan workshop woodcut, grafis, artwork/drawing, bubur kertas, dan zine. Agak siang menyusul karya fotografi yang dibawa oleh Abi dan beberapa temannya dari studio Kedai Digital Blitar.

Untuk workshop sendiri pengunjung yang datang dan tertarik langsung bisa belajar dan membuat karya sendiri dengan dipandu oleh instruktur-instruktur yang terlatih menangani gajah, dengan suasana yang informal, nyantai banget, dan terasa setara, karena sama-sama ngesot di bawah dan semuanya GRAATTTIIISSSSS…….

Agak sorean datang pasukan dari Garum, Blitar yang naik kereta. Pepeng yang sebelumnya telah didapuk untuk meng-handle workshop gambar/drawing langsung menggelar karya-karya artworknya, mengeluarkan alat-alat perangnya, dan mengajak orang di sekitarnya untuk menggambar bersama. Menyusul kemudian datang Simbah dari Garum naik sepeda motor ke pameran di Malang, yang datang langsung menanyakan alat-alat musik. Akhirnya beberapa teman berinisiatif untuk mengambil gitar akustik dan jimbe untuk dibawa ke venue. Segera saja begitu alat musik berkumpul, Simbah dan beberapa teman-teman yang lain gila-gilaan bernyanyi tanpa kenal lelah. Setelah adzan Maghrib, Kang Semut dan Fajar Babi datang dari Surabaya dengan sepeda motornya. Ah, kangen-kangenan lagi, cerita ngalor ngidul seru.

Hari pertama ditutup secara tidak resmi dengan acara makan bersama di atas baliho vinyl ukuran jumbo hasil colongan kampanye pilleg kemaren, dengan menu nasi bungkus mak nyuusss sambil membuat rencana-rencana terusan dari pameran kali ini.

HARI KEDUA : Jumat, 24 April 2009
Hari kedua efektif berjalan seusai waktu sholat jumat. Ini sebenarnya adalah hal yang luput dari perhatian panitia, soalnya kebanyakan panitianya berlagak sok atheis. Setelah kondisi memungkinkan, Kang Semut segera beraksi, mengeluarkan jurusnya, sekaligus menggelar dua buah gulungan kertas yang panjangnya tak terkira ujungnya, dengan tujuan mengajak semua orang yang ada untuk berani menampilkan ekspresinya dalam bentuk gambar dan coretan. Inilah komik ala Kang Semut. Menyusul berikutnya, baru datang dari Surabaya, rombongan X-Go, Komik Bunuh Diri, langsung mendisplay karya artwork, poster, lukisan, ada juga instalasi yang disusun dari kepingan CD-CD bekas dan kaleng-kaleng pylox yang telah dimodif. Sangat inspiratif.

Hari kedua ini pengunjung yang datang lebih banyak dari sebelumnya. Dan ada satu insiden kecil terjadi: sebuah pigura foto berukuran 1x2m terdorong oleh angin dan jatuh hingga kacanya pecah berkeping-keping, untung seorang mbak yang lagi asik membaca zine di depan pigura itu mampu terhindar dari bencana, padahal jaraknya dekat sekali dengan arah jatuhnya pigura itu. Mungkin si mbak ini adalah seorang avatar pembaca zine.. Dan mbak ini pula yang sempat memberi sebuah komentar: “acara ini aura perlawanannya kentel banget yawh..!!” Iya, sebenernya kita juga ada rencana mendisplay aura kasih tapi orangnya gak mau, dan acara ini hampir saja berdarah-darah, untung si mbaknya punya ilmu menggeser tubuh meraba angin.

Tak lupa sesuai jadwal sore hari itu akan digelar juga workshop sablon sekaligus sablonase gratis. Bagian ini dikomandani oleh Zen dibantu dengan budak-budak dari Malang dan Surabaya: Salman, Arip, Babi. Reza dari garasi337 yg dijadwalkan hadir ternyata lagi berhalangan. Maka berebutanlah para fashionista untuk menistakan kaos-kaosnya dengan desain-desain nista yang telah dipersiapkan di atas screen. Bagi yang lupa membawa kaos kosong telah disediakan kaos kosong dari panitia dengan harga murah-meriah.

Acara hari itu ditutup dengan tiba-tiba oleh trio Salman, Habib, Cecep yang menampilkan musikalisasi puisi. Tak lupa Kang Semut yang jebolan teater didaulat untuk membacakan sebuah karya. Aksinya mampu membius dan memukau hadirin. Saya pun takjub, gak tau karena intonasi Kang Semut atau karena itu puisi tulisan saya yang dibacakan.. Hehe.. puisi saya serasa punya roh dan bangkit dari kubur soalnya itu nulisnya sekitar th.2003 lalu. Tak ketinggalan kawan Jibril yang sedari siang sudah nongkrong di venue secara spontan bersedia membacakan karya puisinya yang agak-agak komedi satir namun menggugah.

Dan akhirnya acarapun berakhir sudah. Diiringi dengan obrolan singkat dan ringan dan disusul dengan keberangkatan kontingen Surabaya kembali ke asalnya. Wah ternyata masih ada saja orang-orang yang datang berkunjung tapi sayang semua karya sudah diturunkan dari display. Jadi ya panitia menemani ngobrol-ngobrol aja.

Pas mau bubaran datang lagi kontingen dari scene Karang Kates: Chandra & Kawoxxx CS. Karena tak tega kedatangan mereka sia-sia, panitia berinisiatif untuk membagi karya-karya sebagai oleh-oleh sembari ngobrol banyak tentang aksi lokal, khususnya tentang aksi sepeda santai anti polusi dan penolakan pembangunan pabrik semen gresik di Pagak, Malang Selatan.

YANG TEREKAM (TAK PERNAH MATI)
Yah pada akhirnya yang patut disyukuri adalah bahwa sebuah acara dimana banyak orang terlibat dan melibatkan diri, dengan model pengaturan venue yang begitu terbuka ternyata tidak ada terdengar keluhan atau pengumuman adanya barang-barang yang hilang atau dihilangkan, dan juga tidak ada komplain dari ibu penjaga warung di dalam venue tentang tagihan-tagihan kopi atau makanan yang tak terbayar. Ini membuktikan bahwa sebenarnya setiap orang bisa bergerak, berpartisipasi, dan bertanggungjawab secara aktif apabila dia diberikan sebuah ruang bernama kebebasan!

Dan tak lupa untuk ke depan acara-acara yang mengatasnamakan sebuah scene/komunitas masih sangat perlu untuk mencoba bersinggungan langsung dan membuka ruang interaksi untuk orang, komunitas, atau ide-ide di luar komunitas itu. Terimakasih teman-teman.