"I say never be complete. I say stop being perfect. I say let's evolve. Let the chips fall where they may." —Fight Club

Tampilkan postingan dengan label pemberontakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemberontakan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2011

Proyek Pemutaran Film Anti Kapitalisme Global


Lihatlah!

Betapa banyak barang yang diperlukan

orang Athena untuk hidup!

— Socrates

Perkembangan dunia yang dinamis saat ini justru menuju sebuah kondisi yang kian menyempit. Dunia tak ubahnya sebuah desa global dimana segala macam informasi, teknologi, kebudayaan dan modal bergerak begitu cepat melewati batas-batas negara. Segala hal kini semakin mudah diakses, tak lagi membutuhkan waktu yang lama. Para pendukung globalisasi beranggapan bahwa sistem ini merupakan pemicu meningkatnya kemakmuran dan kesejahteraan seluruh warga dunia. Namun, pada kenyataannya globalisasi tidak hanya membawa kemajuan tetapi juga memunculkan ekses-ekses yang tidak menguntungkan. Globalisasi ternyata membawa dunia ke dalam kondisi yang tidak pasti, penuh dengan ketimpangan dan bersifat hegemonik. Salah satu dampak dari globalisasi adalah munculnya budaya konsumtif dan masyarakat konsumen yang eksistensinya dapat diukur dari seberapa banyak barang yang dikonsumsi secara terus menerus hanya berdasarkan tanda maupun status sosial yang tersimpan didalamnya.

Masyarakat konsumen adalah masyarakat yang eksistensinya dapat dilihat dari diferensiasi komoditi yang dikonsumsi. Mereka, dengan budaya konsumtif yang dipegangnya, hanya melihat tujuan dan totalitas hidupnya dalam kerangka atau logika konsumsi. Masyarakat konsumen tak lagi membeli komoditi untuk kebutuhan bertahan hidup melainkan berdasarkan citra yang digambarkan dalam iklan-iklan demi peningkatan status sosialnya ketika membeli sebuah produk. Mereka terjebak dalam arus konsumerisme yang kemudian meningkat semakin parah menjadi pola konsumtivisme.

Konsumerisme adalah tatanan sosial dan ekonomi yang secara sistematis memacu keinginan masyarakat untuk terus menerus membeli barang dan jasa dalam jumlah yang semakin besar. Sedangkan konsumtivisme adalah kondisi yang secara sadar dipilih oleh masyarakat konsumen untuk terus menerus mengkonsumsi. Ketika masyarakat konsumen semakin berlebihan dalam mengonsumsi maka pada taraf itulah mereka cenderung berubah menjadi lebih konsumtif. Ketika masyarakat konsumen semakin konsumtif maka cenderung teralienasi dari realitas kehidupan yang sesungguhnya hanya mengenai masalah bertahan hidup.

Bagi kami, peradaban modern yang berbasis pada pembangunan masyarakat konsumen ibarat sesosok “Monster Leviathan[1]”, yaitu kekuatan raksasa yang hegemonik dan berpotensi menghancurkan sendi-sendi dasar kemanusiaan. Masyarakat konsumen tak lagi hidup dengan bahagia tetapi jatuh dalam kesemuan sekaligus kesuraman, karena semakin jauh dari makna relasi sosial yang egaliter. Mereka terus menerus diteror untuk membeli dan terus membeli. Dan untuk itu mereka harus bekerja keras sepanjang hari. Tak ubahnya seperti budak yang bekerja mati-matian kemudian menghabiskan uang hasil jerih payahnya untuk membeli berbagai macam barang. Apabila budak-budak jaman dahulu bekerja karena terpaksa, budak-budak modern justru bekerja dengan sukarela demi melahap produk-produk yang diciptakan lewat imaji-imaji semu. Mereka bekerja, mengonsumsi kemudian mati.

Masyarakat konsumen adalah masyarakat yang sakit. Dikatakan sakit apabila masyarakat hanya memiliki satu tujuan dalam kehidupannya. Artinya, segala segi kehidupannya hanya diarahkan kepada keberlangsungan serta peningkatan sistem yang telah ada (dalam hal ini adalah kapitalisme global). Masyarakat konsumen dibentuk untuk terus menerus mengonsumsi tanpa batas. Manusia konsumen adalah manusia pemangsa. Menghancurkan alam, lingkungan dan tatanan sosial budaya. Semua hanya berkisar dalam arus berproduksi dan mengonsumsi. Manusia modern adalah manusia budak, yang bekerja keras untuk menjalankan sistem demi keuntungan segelintir manusia yang serakah.

Kami menolak menjadi budak yang bekerja keras demi memuaskan hasrat untuk mengonsumsi tanpa batas. Kami menolak kecenderungan untuk menjadi masyarakat konsumen. Kami memilih untuk mengonsumsi secara minimalis, yaitu sebatas pada komoditi yang benar-benar kami butuhkan. Kami memilih untuk menentukan sendiri apa yang kami butuhkan, tanpa terdistorsi dari imaji-imaji yang diciptakan untuk membuat manusia tunduk dan menyerah pada nasibnya. Kami menolak menjadi budak yang dengan sukarela menyerahkan hidupnya untuk diperas sampai kisut dan kemudian tercampakkan bagai sampah oleh sistem dominan yang hanya mementingkan keuntungan segelintir manusia yang memiliki kelebihan modal daripada manusia lainnya.

Proyek pemutaran film anti masyarakat konsumen ini adalah bentuk keengganan kami untuk menjadi bagian dari masyarakat modern yang konsumtif. Kami ingin berbagi keresahan dengan banyak orang bahwa di sekitar kita terdapat “Monster Leviathan” yang akan merampas kehidupan manusia. Sistem dominasi hari ini bukanlah sistem yang muncul tiba-tiba tetapi merupakan sistem yang terus menerus berkembang menjadi lebih kuat.

Perlawanan tak bisa direalisasikan hanya dengan menggerutu, mengkritik, berdiskusi sambil menguliti teori-teori revolusioner. Tetapi butuh aksi yang terus menerus dan makin meluas. Bagaimana melawan raksasa yang besar, sedangkan kita adalah individu-individu kecil yang tersebar dimana-mana. Butuh ledakan-ledakan kecil untuk menciptakan retakan dimana-mana dan secara perlahan mampu membakar sang “Monster Leviathan”. Hanya dengan api yang besar ia dapat dikalahkan. Ia bukan hanya harus ditaklukkan, tapi untuk dihancurkan.

Mari kita nyalakan api dimana-mana!



[1] Di dalam Alkitab (Injil), terdapat sebuah istilah yaitu “Leviathan”, digambarkan sebagai sesosok monster laut raksasa. Thomas Hobbes juga pernah mengilustrasikan Leviathan sebagai fenomena dimana negara menjadi ekspresi terluhur dari kekuatan yang demikian agung. Keduanya menyajikan interpretasi yang begitu menakutkan. Di lain pihak, istilah Leviathan juga dipakai oleh Fredy Perlman untuk menggambarkan “peradaban” (dalam bukunya “Against His-story, Against Leviathan”), dalam artian sesuatu yang memiliki kekuatan dahsyat dan cenderung destruktif.

Sabtu, 23 April 2011

Proyek Pemutaran Film Anti Globalisasi


Globalisasi adalah suatu proses dimana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait dan mempengaruhi satu sama lain melampaui batas-batas negara. Proses ini kemudian ditandai dengan munculnya globalisasi pasar, investasi dan proses produksi dari perusahaan-perusahaan transnasional dengan dukungan lembaga-lembaga finansial internasional yang diatur melalui organisasi perdagangan global bernama WTO.

Bagi para pendukungnya, globalisasi dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat dunia. Tetapi pada kenyataannya globalisasi justru melahirkan persoalan-persoalan mengenai keadilan sosial, lingkungan hidup dan HAM, terutama di negara-negara Dunia Ketiga yang secara ekonomi maupun sosial masih jauh terbelakang dibandingkan dengan negara-negara maju yang jauh lebih modern dan mapan. Namun pada kenyataannya Globalisasi memunculkan permasalahan-permasalahan mengenai keadilan sosial dan Hak asasi manusia.

Bagi kami, globalisasi adalah penyeragaman atas nama akumulasi modal. Banyak hal yang dulu bisa dinikmati secara gratis dan menjadi hak setiap manusia, kini dianggap sebagai sebuah komoditas yang harus dibeli. Air, pangan, kesehatan, pendidikan, perumahan dan berbagai kebutuhan dasar manusia lainnya kini menjadi barang dagangan yang hanya ditujukan untuk meningkatkan nilai kapital. Kini manusia tak ubahnya mesin-mesin yang perputaran hidupnya hanya untuk bekerja dan mengkonsumsi. Manusia kini hidup di dunia yang didominasi oleh sebuah sistem perdagangan totaliter. Dunia semakin menunjukkan ketidakberesan yang berujung pada keresahan dan kebosanan.

Selain itu, kita sudah menjadi terbiasa melihat, mendengar dan membaca permasalahan lingkungan, ekonomi dan sosial yang diakibatkan oleh persekongkolan negara dan korporasi dalam mengeruk profit. Alam kita telah menjadi rusak dan tidak seimbang. Sebut saja kasus yang terjadi di Sumatra Utara seperti Indorayon (1996), Teluk Buyat (1998), Petani Persil IV dengan PTPN II di Deli Serdang (2006). Kita bisa melihat juga apa yang terjadi di wilayah Jawa seperti Jakarta dengan pengusurannya yang tiada henti atas nama pembangunan, Garut dengan Serikat petani Pasundan (1999), Kulon Progo (2010), Pati (2008) dan Rembang dengan Semen Gersik (2010), Porong dengan Lumpur Lapindo (2006). Hingga wilayah Timur yaitu Wera (Bima–Nusa Tenggara Barat) dalam menentang masuknya tambang pasir besi dan Papua dengan Freeport, BP Migas, dan kini mega proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estated) yang melibatkan puluhan investor asing, lokal, investasi triliunan dan lahan yang sangat luas.

Permasalahan di atas dihasilkan melalui persekongkolan antara Perusahan (Korporasi) dan Pemerintah (Negara) dengan mengatasnamakan keuntungan (profit). Sadar atau tidak permasalahan ini akan menimpa kita yang berada disini nantinya. Sadar atau tidak kita menjadi bagian yang terkait dekat dalam sistem ini. Kenyataan-kenyataan di ataslah yang menjadi alasan kami untuk menggalang solidaritas dan menggiatkan kampanye untuk melawan dominasi modal yang terus mengalienasi kehidupan manusia dari kemanusiaannya ke tataran yang lebih luas lagi. Mereka disana berjuang untuk keberlangsungan hidup keluarganya, sedangkan kita disini juga menikmati apa yang dihasilkan oleh mereka, maka sudah selayaknya pula kita mendukung dan melakukan sesuatu untuk perjuangan yang mereka lakukan.

Kegiatan pemutaran film anti globalisasi ini adalah salah satu bentuk solidaritas kami terhadap perlawanan-perlawanan lokal yang terus bermunculan melawan dominasi sistem globalisasi. Kami hanya ingin berbagi keresahan, bahwa ada yang tak beres dengan dunia ini. Mengenai apa yang kemudian kalian pilih untuk melakukan resistensi, itu tergantung persepsi kalian sendiri mengenai kehidupan yang kalian jalani.

Solidaritas dan Perlawanan, sekarang atau tidak sama sekali!!!

Jumat, 02 April 2010

Kutil: Kehidupan Rahasia Seorang Tukang Cukur

Pada tahun 1945, Kutil, bernama asli Sakhyani, seorang tukang cukur sekaligus preman desa di daerah Talang, kabupaten Tegal, Jawa Tengah, bertransformasi menjadi seorang pahlawan. Sebagai seorang yang lahir pada dekade 1970-an, amatlah sulit untuk mendengar kabar mengenai namanya. Tak ada setitikpun dalam pelajaran sejarah yang diberikan guru-guru semenjak bersekolah di Sekolah Dasar, pernah mengungkit namanya, ataupun peristiwa yang membesarkan namanya. Kutil seakan tak pernah eksis. Peristiwa yang membuatnya terkenal juga sama. Bahkan hingga hari ini, peristiwa tersebut masih tidak dibuka sepenuhnya. Dalam catatan militer, peristiwa tersebut hanyalah sekedar kasus dari sekian banyak kasus pemberontakan—yang sebagiannya, seperti biasa, dilabeli sebagai pekerjaan terselubung gerakan komunisme. Dalam catatan tertulis, tercatat secara resmi hanya satu buah buku yang membahas peristiwa tersebut. Sitok Srengenge, seorang sastrawan kaliber nasional, pernah menerbitkan sebuah cerita bersambung dalam Sinar Merdeka di tahun 2005 mengenai kehidupan Kutil, tapi itupun tak pernah menggugah banyak. Seorang mahasiswi jurusan sejarah di Semarang juga pernah menyusun skripsi mengenai kehidupan sang tokoh, tapi lagi-lagi, itupun hanya sekedar menjadi dokumen yang tak mampu berbicara apapun. Sejarah adalah milik mereka yang menang, seorang bijak pernah berkata demikian. Mungkin ucapan tersebut benar adanya, toh Kutil dan gerakan yang ia bantu letupkan memang pada akhirnya ditundukkan. Kutil sendiri ditembak mati.


Peristiwa yang melambungkan namanya, adalah peristiwa yang dikenal dengan sebutan Pemberontakan Tiga Daerah. Nama tersebut memang berkaitan dengan nama lokasi di mana di tiga daerah, pemberontakan meletup secara simultan: Brebes, Tegal, dan Pekalongan. Pemberontakan tersebut meletup di sekitaran Oktober 1945, kala Indonesia sedang dilanda dengan euforia kemerdekaan. Pemberontakan ini, mungkin memang tidak dikenal—atau sengaja dilupakan—akibat karakteristiknya yang dalam kultur popular dewasa ini dikenal dengan istilah anti-hero. Di sana, isu mengenai kekuasaan dipertanyakan dengan aksi yang tidak tanggung-tanggung: bangsawan, kolonial, elit-elit daerah, diarak, dipermalukan dan banyak di antaranya dibunuh. Para petani dan buruh-buruh miskin, bangkit mengangkat senjata, menyerang dan membunuhi anggota-anggota kelas atas. Tokoh yang namanya menjulangpun bukanlah tokoh dari pihak yang baik sebagaimana pahlawan-pahlawan lainnya sebagaimana yang tertulis di buku sejarah, tokohnya adalah lenggaong atau preman desa. Pemberontakan tersebut memang pemberontakan melawan kolonialisme Jepang, tapi ia juga adalah pemberontakan melawan pemerintahan formal Republik Indonesia yang kala itu berada di tangan Sukarno—tidak untuk mendirikan negara terpisah seperti yang dikumandangkan oleh banyak daerah lain, tapi sekedar menuntut otonomi penuh atas daerah dan cara hidup di tempat di mana mereka tinggal.


Satu kasus yang dianggap paling memalukan oleh cukup banyak pihak, adalah dengan diaraknya adik kandung R.A. Kartini, Kardinah, akibat posisi sosialnya yang merupakan bagian dari kelas bangsawan. Memang Kardinah berhasil diselamatkan oleh beberapa orang yang bersimpati padanya, tepat beberapa saat sebelum Kutil memutuskan untuk mengeksekusinya. Jenderal Sudirman, sang tokoh gerilya dalam episode-episode perlawanan terhadap koloni Belanda, mengaku kebingungan atas peristiwa pemberontakan tersebut. Presiden Sukarno bahkan juga pernah tercatat menyatakan bahwa Tiga Daerah adalah sebuah negara sendiri, karena penduduknya tidak mengakui kekuasaan pemerintah pusat. Nama Kardinah diabadikan sebagai nama sebuah Rumah Sakit Umum di Tegal, sementara nama Kutil, nyaris tetap tak pernah eksis di benak kita semua. Semua pihak formal, atau yang diakui secara legal oleh negara ini, memilih menutup mulut mengenai peristiwa tersebut.


Kutil menutup mata, setelah ia menolak matanya ditutup di hadapan regu tembak Republik Indonesia, akibat terjangan peluru, di pinggir pantai dekat Pekalongan pada 5 Mei 1951.


Kutil, yang dalam bahasa Jawa berarti “Bintil Kecil”, atau juga bisa diartikan sebagai “pencopet”, adalah anak seorang pedagang emas dari Taman dekat Pemalang. Ia hidup di pinggir pelabuhan yang ramai dengan arus perdagangan. Sebagaimana anak yang dibesarkan dengan situasi keras kawasan pelabuhan di bawah orang tua yang tak berkecukupan, membuat Kutil dikenal sebagai anak nakal, atau “bangor” apabila menuruti logat Tegal.


Memasuki usia dewasa, Kutil bekerja sebagai tukang cukur sekaligus pedagang barang bekas dan penyalur barang-barang yang dibutuhkan tapi sulit didapat. Beberapa orang menyatakan bahwa ia mampu melakukan hal tersebut karena ia hafal dengan seluk beluk perdagangan gelap yang menyebar dari kota ke kota, hingga ke kota Bandung yang kala itu terkenal sebagai tempat komersial yang cukup berkembang.


Di bawah kekuasaan kolonial, gerakan-gerakan perlawanan memang dikenal menjalin kontak dengan sisi-sisi gelap masyarakat: bandit, kriminal, perampok dan preman-preman setempat. Dari PKI (Partai Komunis Indonesia) hingga Sarekat Islam, nyaris semuanya memiliki kontak yang intens dengan kelompok-kelompok tersebut nyaris di tiap daerah di mana organisasi mereka berkembang dan diterima masyarakat setempat. Saat situasi memanas, terjadi beberapa letupan, baik yang terorganisir maupun yang hadir secara spontan. Di sinilah petualangan Kutil bermula. Ia dibuang ke Digul akibat keterlibatan mereka dalam pemberontakan besar melawan Belanda pada 1926, bersama dua orang kawan dekatnya, Slamet dan Washari. Ia tak terlalu lama berkutat di Digul karena ia, bersama kedua kawan dekatnya pula, berhasil melarikan diri setelah membunuh sipir Belanda dan mencuri perahu. Dalam waktu yang relatif singkat, ia memang telah hadir kembali di Tegal, kota yang membesarkannya.


Tak lama dari setibanya kembali di Tegal, Kutil menikahi seorang gadis bernama Was’ah yang kemudian melahirkan empat orang anaknya, dua anak lelaki bernama Khambali dan Sapi’i, serta dua orang perempuan bernama Fatimah dan Rokhmah. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari, isterinya membuka warung makan, sementara Kutil kembali pada profesi lamanya sebagai tukang cukur.


Keterlibatannya dalam pemberontakan yang memang dimotori sebagian besarnya oleh PKI, walau tidak seterkenal para tokoh-tokoh pemberontakan lainnya, telah mengajarkan ia satu hal yang mengesampingkan karakteristiknya sebagai kriminal, yaitu bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang penting dan layak untuk diperjuangkan, bahwa tidak seharusnya orang-orang hidup menderita sementara sedikit orang menikmati kekayaan yang berlimpah-limpah. Pemikiran pertama Kutil, yang tetap hidup di tengah-tengah masyarakat sebagaimana orang lainnya sehingga mampu melihat praktik nyata dari kolonialisasi, adalah mengganti elit-elit pemerintahan dan golongan Pangreh Praja karena baginya, mereka adalah orang-orang yang memperkuat struktur kekuasaan kolonial. Pemikiran Kutil yang naif, dengan pandangan bahwa setiap orang harus mendapatkan jatah yang sama, tak peduli status sosialnya, semakin mendalam saat di awal kemerdekaan, dengan krisisnya Jepang dalam Perang Dunia II, kehidupan masyarakat semakin memburuk akibat pajak yang meningkat dari pemerintah kolonial Jepang.


Kala Jepang dikabarkan menyerah dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, gaung tersebut hanya terdengar sayup-sayup di telinga mereka yang tinggal di daerah-daerah yang terletak cukup jauh dari pemerintah pusat di Jakarta. Di Tegal, elit-elit lokal tak berani mengambil keputusan tegas atas kabar yang masih terdengar sayup-sayup tersebut. Balatentara Jepang yang ada juga bersikap ragu-ragu. Maka oleh beberapa pemuda yang dimotori oleh para lenggaong, di beberapa markas tentara Jepang, penjarahan senjata mulai dilakukan, penurunan bendera Matahari Terbit diganti dengan bendera Merah Putih. Situasi mulai memanas, tapi tetap saja, para elit dan bangsawan lokal yang selama ini dipelihara oleh Jepang tak berani mengambil sikap—antara turut memberontak yang berarti melawan tuannya, atau menunggu kepastian kabar tentang kekalahan sang tuan dan datangnya kemerdekaan.


Sesungguhnya situasi masih cukup terkendali, walaupun kelompok-kelompok pemuda mulai bersikukuh bahwa mereka akan membenarkan kabar soal kemerdekaan dengan cara menyatakan diri bahwa mereka memang telah merdeka. Kelompok-kelompok dan badan-badan perjuangan bawah tanah seperti Afdeling-B PKI ataupun laskar-laskar informal lainnya, juga mulai berkonsolidasi untuk memastikan tindak lanjut menuju kemerdekaan yang telah sekian lama diperjuangkan. Tak terlalu lama, kabar benar tersiar dan datang dari pusat pemerintahan, bahwa Indonesia telah menyatakan diri merdeka. Semua bergembira. Sampai datang sebuah keputusan yang justru mengipasi bara yang tersimpan sekian lama.


Pemerintah pusat menginginkan agar pemerintahan diteruskan ke daerah melalui orang-orang yang sebelumnya telah menjabat di kursi-kursi elit kekuasaan daerah. Dengan kata lain, tak ada pergantian tampuk kepemimpinan daerah. Warna bendera yang berkibar di pusat-pusat pemerintahan daerah berganti, tetapi tidak hidup mereka yang berada di bawahnya. Bersamanya, bara mulai berubah menjadi api.



(Bersambung)

ditulis oleh: Crimethought.