"I say never be complete. I say stop being perfect. I say let's evolve. Let the chips fall where they may." —Fight Club

Jumat, 20 Februari 2009

BEBASKAN SAUDARA PARA PETANI PEJUANG LINGKUNGAN!

SOLIDARITAS: BEBASKAN SAUDARA PARA PETANI PEJUANG LINGKUNGAN!

Ancaman kehancuran lingkungan, sosial budaya dan ekonomi yang dilakukan oleh korporasi yang berselingkuh dengan negara ada di depan mata. Rencana pendirian pabrik semen di Pati, Jawa Tengah akhirnya banyak menimbulkan keresahan, ketegangan dan pertentangan. Hal tersebut timbul karena lokasi rencana pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng Utara itu terdapat ratusan mata air yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Penolakan proyek pabrik semen itu tidak hanya muncul dari para petani di Sukolilo, tetapi juga komunitas Sedulur Sikep atau biasa disebut dengan Wong Samin, komunitas adat lokal yang dikenal dalam masyarakat Jawa sangat arif dan pencinta lingkungan yang sederhana.


Namun upaya penyelamatan dan pelestarian lingkungan itu kini mendapat hadangan besar. Terkait dengan aksi penolakan rencana pembangunan pabrik semen tersebut kini ada sembilan orang petani sekaligus aktivis lingkungan dan komunitas adat yang ditahan.

Kronologis kejadiannya dimulai pada pagi hari Kamis, 22 Januari 2009 ketika warga ingin berdialog menanyakan kejelasan kepada Kepala Desa terkait dengan kabar penjualan tanah milik desa, yang setelah satu hari sebelumnya tak mendapat respon dari Kepala Desa hingga akhirnya melakukan aksi penancapan poster di tanah desa yang akan dijual dengan tulisan “Tanah Desa Adalah Milik Rakyat”. Karena pada pagi itu pun tidak kunjung ditemui oleh Kepala Desa, massa yang kecewa akhirnya melakukan pemblokadean pada empat buah mobil team survey PT Semen yang datang. Aksi berlangsung damai. Namun hingga sepuluh jam berlalu sampai malam hari tiba tuntutan dialog warga tak terpenuhi juga. Warga tetap duduk sabar menunggu.

Situasi memanas saat sekitar 250 personel Brimob dan Samapta bergerak ke arah warga yang duduk di sekitar mobil milik Semen Gresik. Mereka merangsek sambil meneriakkan cacian dan menyingkirkan warga yang mengelilingi mobil. Para polisi menendang, memukul,menginjak hingga melemparkan laki-laki dan perempuan yang tetap bertahan. Jeritan perempuan dan anak-anak yang panik terdengar. Aksi represifitas aparat tersebut akhirnya dilawan oleh warga. Anak-anak, ibu-ibu, pemuda hingga orangtua bersatupadu membalas kesewenang-wenangan yang dilakukan. Hujan batu terjadi disertai dengan tembakan dari polisi. Tiga belas polisi luka-luka dan tiga buah mobil milik PT Semen Gresik hancur. Puluhan warga, laki-laki dan perempuan, menjadi korban tindakan brutal aparat . Kamera video dan foto yang dibawa oleh kawan-kawan rusak berat.

Tanpa cukup bukti kuat polisi lalu menangkap sembilan warga. Mereka dijerat dengan tuduhan tindak kekerasan, penghasutan, dan melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Sembilan warga yang ditahan di antaranya adalah: Kamsi (65), Sunarto (52), Sudarto (48), Sukarman (26), Sutikno (26), Gunarto (25), Purwanto (22), Mualim (21) dan Zainul (20).

Aksi brutal polisi terus berlanjut. Pasca penangkapan, represifitas berbentuk penyiksaan mental hingga fisik kembali dilakukan oleh polisi. dengan menghajar sembilan orang warga. Luka memar di bagian kepala, pelipis robek, hingga mata yang tidak bisa dipakai melek.

Saat ini ke sembilan petani pejuang lingkungan tersebut masih mendekam dalam tahanan Mapolda Semarang, menunggu sidang peradilan. Untuk itu, atas nama bumi tanah air dan perjuangan rakyat melawan tirani, kami menyerukan dan mengajak kawan-kawan seperjuangan di manapun berada untuk berpartisipasi aktif bersolidaritas:

Bebaskan segera sembilan orang saudara dari penjara!
Hentikan proyek PT. Semen Gresik di Jawa Tengah sekarang juga!


SOLIDARITY: FREE OUR ENVIROMENTAL FIGHTER FARMERS!

Once again we have to face another obstacle in stopping the corporation from destroying our environment, cultural and economy. Together with the plan to built the cement factory in Pati, Central Java that caused lots of conflicts and problems among local people because the factory will be built on the North Kendeng mountain where are most rivers and lakes are located, the authorities has arrested nine farmers and activists that join the protest.

This rejection towards the cement factory it's not only come from Sukolilo's farmers but also Sedulur Sikep community or used to be called Wong Samin, the local community being known in Javanese society as very wise and humble environment fighters.

But this effort now facing an obstacle related with the arrests of nine farmers and environment activists during their protest to close this cement factory.

The chronology of the event start Thursday morning, 22 January 2009 when the people would like to have a dialog with their village authority on the news of the selling of their land to the Semen Gresik, one day after they made posters with the statement that Our Land Belongs To Us because of zero response from their village authority regarding this news. Because the authority seemed to refuse to meet them, they decide to block and closed the road from the four survey cars from Semen Gresik that arrived that day. But then when the night comes and there is still no news from the authority for having that dialog with them, those people just sit and wait patiently without making any violence acts at all.

The situation got intense when there were 250 Brimob and Samapta suddenly move towards the people that sit around the Semen Gresik's cars. They scream and swearing towards the people while trying to make them move away from those cars violently. They kick, hit, step on and throw woman and men that insist to stay. Women's and children screaming in panicked. Then people started to fight back. Children, women, men and even elders throwing rocks towards those officers while the sound of gunshots on the air. Thirteen police officers wounded and three Semen Gresik's cars destroyed. Many people, man and women, being victims of those police's brutality. Video camera and digital camera belongs to our friends are also heavily damaged.
Without having a strong evidences the police then arrest those nine people. They are under arrest with accusation of violence, persuasion and doing unpleasant activities. Among those nine people that being arrested there were Kamsi (65 yo), Sunarto (52 yo), Sudarto (48 yo), Sukarman (26 yo), Sutikno (26 yo), Gunarto (25 yo), Purwanto (22 yo), Mualim (21 yo) and Zainul (20 yo).

These police brutality actions are still continuing after the arrest by physical and mental repressions by hitting those nine farmers on their heads, eyes and other parts of their bodies.

At present, those nine farmers are still under arrest at the Semarang Police Station, in central Java, waiting for their further trial. Therefore, in the name of our land and people's fight against those tyrants, we are calling out all of our friends out there to be actively involved on this solidarity effort.

Release our nine brothers from prison as soon as possible!
Stop the Semen Gresik project at Central Java right away!


dari pegunungan kendeng

sekar jati


contact : supersamin_inc@yahoo.com

Selasa, 17 Februari 2009

Jangan Hanya Golput, Ciptakan Organisasi Swakelola

Apakah organisasi swakelola itu?
Apakah sebuah gerakan itu?
Apakah susah membuat suatu pergerakan?
Apakah harus melalui sebuah rapat rahasia dan tertutup?

Organisasi swakelola berarti kesepakatan, kemerdekaan masing-masing individu dan organisasi organisasi kecil secara keseluruhan mengenai ikhtiar kolektif dan konsensus, dalam rangka mencapai tujuan bersama.


Sambungan dari Issue sebelumnya
Jangan Hanya Golput

Semua pergerakan dimulai dari pemikiran. Tidak ada yang dapat menghentikan pemikiran kita
Tidak diperlukan sebuah rapat rahasia untuk memulai pergerakan.
Tidak kita sudah sering melakukan sebuah pengorganisasian swakelola. Hanya saja kita tidak memberi makna lebih pada kegiatan tersebut
Kita telah terbiasa melakukan kerja bakti, kita terbiasa melakukan siskamling
Coba pikirkan ini apakah para satpam atau hansip yang kita bayar dengan uang iuran warga menjaga property kita dengan setulus hati dan rela mati-matian untuk menjaganya? Tentu tidak mereka menjaga property kita karena gaji yang diperolehnya tiap bulan. Bagaimana jika kita yang melakukan penjagaan swadaya sendiri seperti siskamling? Tentu kita akan menjaga property dengan sepenuh hati. Karena kita menjaga barang milik kita sendiri. Hal ini berlaku juga dengan kerja bakti
Apa yang mendorong kita melakukannya? Sebuah kebutuhan. Suatu dorongan yang menjadi bahan bakar perlawanan kita.
Dan tentunya dari contoh yang sederhana ini kita dapat mengembangkan menjadi organisasi swakelola otonom yang lebih besar dan kompleks seperti organisasi produksi pekerja dan buruh tani, koperasi buruh dan buruh tani, dan lainnya

Dan sekali lagi negara adalah halangan utama, karena dia merampas segala hak massa dan mencabut mereka dari segala fungsi kehidupan sosial dan ekonomi. Negara harus lenyap, bukan di suatu hari nanti, bukan pada masyarakat masa depan nanti. Ia mesti dihancurkan sekarang. Negara harus dihancurkan dari pikiran kalian mulai sekarang. Dan tidak boleh dipugar lagi atau dikembalikan walau dengan menyamar menjadi bentuk apapun. Di tempatnya, sebuah sistem swakelola mandiri organisasi pekerja dari produsen dan konsumen, disatukan berbasis secara federatif. Sistem ini akan mengusur baik organisasi kekuasaan Negara dan kediktatoran dari suatu partai dari jenis apapun.

Apakah hidup kita sekomplek dan serumit yang kalian bayangkan. Sehingga kita harus membutuhkan Negara untuk mengurusi sebagian hidup kita. Tidak hidup kita sungguh sangat sederhana. Kita tidak membutuhkan calaeg yang justru mengkorupsi uang pajak kalian. Kita tidak butuh polisi yang tidak mengamankan kalian yang justru uang pajak kalian tersebut balik memukuli dan mengkorup kalian.
Apakah suku baduy membutuhkan pemerinthan untuk mengatur kehidupannya. Yang dengan tidak adanya pemerintah dia tidak akan dapat melanjutkan keberlangsungan hidupnya. Dan jawabannya tentu adalah TIDAK. Tidak saya tidak mengajak anda semua untuk menjadi primitivis tapi menyadarkan bahwa sebenarnya kita tidak membutuhkan pemerintah. Yang justru sangat tidak produktif, ya pemerintah adalah salah satu organisasi yang kontra produktif



Tentang sebuah gerakan

tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

Wiji Thukul,1989



Puisi dari Wiji Thukul, Aku ingin jadi peluru. 2004
Sebagian isi dicukil dari Anarkismo.net (Platform Organisasi Komunis Libertarian).
ditulis oleh : rexsistance

Jangan Hanya Golput

Kenapa orang-orang harus dihimbau untuk memilih?. Sebab kita mengetahui pemilu adalah omong kosong. “Demokrasi” perwakilan hanyalah memelihara ilusi keikutsertaan dan persetujuan kita. Ikut pemilu bukanlah hal yang baik. Kalian akan mendapatkan suara, namun apakah itu akan merubah suatu hal yang mendasar? Kita tidak hanya membutuhkan suara yang kita butuhkan adalah aksi langsung.

Apakah kamu mau dijajah?. Apakah kamu mau bergabung dengan partai yang memanfaatkan kesengsaraan kita untuk mengganti penguasa negara?. Partai hanyalah memecah belah dan memisahkan. Apabila gambar dan nomor berbeda maka menimbulkan pertikaian. Partai memisahkan antara wakil rakyat dengan rakyat yang telah memberikan suara padanya. Tidak ada lagi kepentingan rakyat yang ada hanyalah kepentingan partai dan diri sendiri (wakil rakyat). Tidak ada lagi keterwakilan rakyat. Tidak ada lagi perjuangan untuk rakyatyang diwakilinya. Dan apabila wakil rakyat yang telah kita pilih sudah melekat pada negara maka tidak akan punya daya untuk melawan dan memperjuangkan hak kita . Karena status yang disandangnya membutuhkan perjuangan. Dan mereka (wakil rakyat) cenderung bergabung dengan sistem yang telah ada. Jabatan yang hanya mungkin diperoleh bagi mereka yang mendukung institusi yang mapan cenderung mendislasi keputusan. Kecenderungan ini semakin buruk ketika jabatan tersebut dihubungkan dengan pertimbangan sosial dan kesempatan akan kekuasaan yang picik.

Dekontruksi demokrasi. siapa bilang dalam demokrasi yang terbanyak yang menang, Contohnya begini saat kalian menjadi golput dan prosentase golput lebih dari 50 persen apakah golput yang memenangkan pemilu. Tentu tidak. Menjadi golput saja bukanlah suatu tujuan akhir tapi permulaan dari sebuah perlawanan yang kamu lakukan.
Jika kamu menginginkan masyarakat tanpa penindasan aksi langsung adalah satu-satunya jalan.

...

Hari ini aku akan bersiul-siul

pada hari coblosan nanti
aku akan masuk ke dapur
akan kujumlah gelas dan sendokku
apakah jumlahnya bertambah
setelah pemilu bubar?

pemilu o pilu pilu

bila hari coblosan nanti tiba
aku tak akan pergi ke mana-mana
aku ingin dirumah saja
mengisi jambangan
atau menanak nasi

pemilu o pilu pilu

nanti kan kuceritakan kepadamu
apakah jadi penuh karung beras
minyak tanah
gula
atau bumbu masak
setelah suaramu dihitung
dan pesta demokrasi dinyatakan usai
nanti akan aku ceritakan kepadamu

pemilu o pilu pilu

bila tiba harinya
hari coblosan
aku tak akan ikut berbondong-bondong
ke tempat pemungutan suara
aku tidak akan datang
aku tidak akan menyerahkan suaraku
aku tidak akan ikutan masuk
ke dalam kotak suara itu
pemilu
o pilu pilu
aku akan bersiul-siul
memproklamasikan kemerdekaanku

aku akan mandi
dan bernyanyi sekeras-kerasnya
pemilu o pilu pilu

hari itu aku akan megibarkan hakku
tinggi tinggi
akan kurayakan dengan nasi hangat
sambel bawang dan ikan asin

pemilu
o pilu pilu
sambel bawang dan ikan asin

Wiji thukul



Bersambung ke …
Jangan Hanya Golput, Ciptakan Organisasi Swakelola
ditulis oleh : rexsistance

Kamis, 15 Januari 2009

Wawancara dengan Soesilo Toer

(ini wawancara dengan Pak Soesilo Toer, adik dari Pramoedya Ananta Toer, terkait dengan basis ekonomi alternatif)


INTERVIEW

Soesilo Toer: Saya Bersyukur Hanya Sebentar Jadi Pegawai Negeri


Bapak dengan seorang anak ini adalah anak ke-7 dari 9 bersaudara, keturunan Mas Toer, kepala sekolah Institut Boedi Oetomo (IBO) di Blora. Beliau lahir di Jetis, Blora, 17 Februari 1937 dengan nama Soesilo Toer.

Tahun 1950, Soes kecil menamatkan sekolah dasarnya. Tahun 1957 menamatkan SMA, kemudian melanjutkan ke Akademi Keuangan di Bogor.

Dari kota hujan tersebut dia memutuskan untuk meneruskan sekolah di Rusia, hingga pada tahun 1967 tamat dari Universitas Lumumba dengan gelar MSc. Karir pendidikan Soes terus menanjak dengan menamatkan pendidikan di Institut Plekhanov pada tahun 1971 dengan gelar DR.PhD.

Seperti jenjang pendidikan yang dia tekuni, bidang kerja yang dilakukan Soes juga sangat beragam. Soes pernah bekerja di Interpress sebagai korektor, Redaktur Majalah IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia), Dewan Pengawas Keuangan di Bogor, Perusahaan Marga Bhakti –sebuah perusahaan Export-Import Belanda yang dinasionalisasi. Selain itu dia pernah kerja di APN (Agen Berita dan Penerbitan) dan radio Moskwa. Tak ketinggalan dengan kerja-kerja sosial, lelaki bercambang ini juga pernah ikut membangun pembangkit tenaga listrik terbesar di Rusia, di kota Bratsk, Siberia –sebuah kota yang terletak di tepi Sungai Angara, kerja pertanian di Altai, membetulkan rel kereta api Trans-Siberia di Irkutsk dan pertanian kolektif di Moldavia –sebuah Republik dekat Ukraina.

Tahun 1973 Soesilo kembali ke tanah kelahirannya: Indonesia. Namun, karena perbedaan pandangan politik saat itu, tahun 1973-1978 oleh rezim militeristik Orde Baru dia dipaksa merasakan pengap dan dinginnya penjara di Kebayoran Lama. Nasib baik masih berpihak padanya waktu tahun 1986-1990 diangkat menjadi dosen tingkat Lektor Madya di Universitas Tujuhbelas Agustus-Jakarta. Karirnya terus merangkak ketika tahun 1988 menjadi Rektor Universitas Bhakti Pertiwi di Bekasi dan tahun 1990-2003 masuk dalam jajaran Litbang (Penelitian dan Pengembangan) Perguruan Rakyat di Jakarta.

Saat ini, di usia 71 tahun, beliau bersama istrinya tinggal di Blora, mengelola perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Blora) dengan berkebun sebagai aktifitas kerja lainnya.

Berikut ini petikan wawancaranya dengan Eko Arifianto di rumah bersejarah yang beralamatkan di Jl. Sumbawa 40 Jetis, Blora.


Bisa diceritakan sejarah singkat berdirinya PATABA?

Perpustakaan PATABA sebenarnya tadinya mau didirikan bertiga: saya, Pak Koesalah dan Pak Pram. Tapi karena Pak Pram mendadak meninggal, akhirnya saya ambil alih dan langsung dengan buku-buku yang saya punya saya dirikan PATABA, lahir bersamaan dengan meninggalnya Pak Pram, tanggal 30 April 2006.


Apa visi dan misi dari PATABA?

Visi yang utama adalah perpustakaan desa. Sedangkan misinya untuk mencerdaskan lingkungan, terutama masyarakat RT.01 RW.01 Kelurahan Jetis sini. Tapi kemudian justru diminati oleh banyak pihak, termasuk orang dari luar Blora, antara lain Malang, Semarang, Jogja, Bandung, Palembang, Pati,.. kemarin juga dari Kalimantan. Ya, mungkin karena nama Pram, kalau nama saya sendiri kan tidak ada yang kenal..


Koleksi buku apa saja yang ada di PATABA?

Ada Ensiklopedi Britannica, buku-buku bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, dll. Kalau dari segi ilmu hampir semua ilmu ada. Filsafat, Sejarah, Hukum, Sosial, Politik, Budaya, dan lain-lain.


Tiap perpustakaan mempunyai kelebihan. Apa yang membedakan perpustakaan PATABA dengan perpustakaan lainnya?

Pertama: Karena tidak ada katalog, para peminjam mencari sendiri buku-buku yang dibutuhkan. Sengaja disederhanakan, supaya mereka yang punya minat baca datang mencari buku-buku yang disukai. Kedua: Rumah yang digunakan Pram dulu ini bisa menjadikan kesakralan tersendiri bagi para pengunjung. Ketiga: Gratis, hehe, malah kalau ada makanan atau minuman ya disuguhin.. dan kalau ada tamu dari luar kota ya bisa nginep di sini. Tapi ada juga kekurangannya, yaitu kurang kontrol dan banyak buku yang tidak kembali!


Bagaimana respon masyarakat dan institusi pemerintah setempat?

Banyak masyarakat yang datang; dari anak SD hingga mahasiswa, doktor, pendeta dan peneliti. Respon pemerintah setempat belum ada. Rencana mau bikin profil tentang PATABA, tapi hingga sekarang belum ada kelanjutannya.


Dari mana buku-buku tersebut diperoleh?

Ada buku-buku sumbangan dari Kunarto Marjuki dari LPAW, dari SuperSamin, Sekolah Katholik Blora, agen majalah Bintang, Universitas Airlangga, SMPN 5 Blora, pengarang Jawa Hoery, Gunawan Budi Susanto, Djoko Pitono, Johan Khoirul Zaman, M. Akrom Unjiya, Ajip Rosidi, termasuk sumbangan dari bapak Suparwadi, Astuti A. Toer, dan lain-lain. Yang utama koleksi buku Pak Koesalah..


Berapa banyak jumlah buku yang ada di PATABA sekarang ini?

Kurang lebih semua ada 3000 buku lebih.


Bagaimana proses sirkulasi buku di PATABA?

Untuk pengunjung yang baru datang, saya sediakan “Buku Tamu” agar saya kenal nama dan alamatnya. Kalau untuk peminjam buku saya tulis di “Buku Khusus”, waktu peminjaman 1 minggu.. 2 minggu..


Bagaimana dengan pembiayaan dan manajemennya?

Kadang ada yang dengan sukarela membantu.. 50 ribu… 100 ribu, dibelikan lakban dan isolasi untuk perawatan buku-buku. Panitia 100 Tahun Pers Nasional dulu juga pernah membantu 500 ribu, yang saya gunakan membuat acara “2 Tahun Meninggalnya Pram”. Untuk membuat makanan, minuman, poster, pamplet dan lain-lain. Hasil kebun juga banyak membantu keberadaan dan pengelolaan perpustakaan. Ada 20 jenis pohon yang nantinya menghasilkan buah. Pisang, mangga, asem, rambutan, nangka, durian, jambu, alpukat… Apalagi nanti kalau pohon jatinya sudah besar akan menjadi basis ekonomi yang kuat di kemudian hari.


Bagaimana Anda membagi waktu antara kerja, keluarga dan mengurusi perpustakaan?

Bangun tidur.. membantu istri di dapur… nyiramin tanaman… bakar sampah… belah kayu bakar… ke pasar… nunggu perpustakaan… tidur… kliping… baca koran... baca buku... Tak ada timetable. Santai.


Menurut Anda, “Basis Ekonomi Alternatif” yang ideal itu seperti apa?

Satu: Mandiri. Niat dan tekad untuk mandiri! Semua ide yang konstruktif dan positif cuma tiga persen, sisanya adalah keringat! Saya tidak malu mengambil sampah dan kotoran kambing dari tetangga. Saya bakar, abunya saya sebarin ke sekitar tanaman. Sekurus-kurusnya tanah kalau dirawat akan menghasilkan. Masyarakat kebanyakan masih melihat dengan kacamata berbeda, padahal keberhasilan hidup bukan jatuh dari langit. Dua: Bidang yang bisa menghidupi. Kalau mau jualan, silahkan.. Pisang goreng? Silahkan! Modalnya tidak banyak... Yang penting jalan dulu… Berbuat kesalahan itu manusiawi.. Kesandung itu biasa, dan menyadari diri sendiri itu dewasa. Tiga: Kerja keras. Keringat! Kita tidak boleh menyerah pada keadaan! Jangan lewatkan kesempatan, itu kebodohan! Semua kerja positif itu mulia!


Punya pengarang favorit beserta karyanya yang cukup berpengaruh dalam kehidupan Anda?

Trisno Yuwono, seorang sersan, penulis cerpen. Orangnya agak gila, sadis, suka menyiksa istrinya. Syukurlah istrinya seorang masokis –dia menyukai perlakuan sadis suaminya. Tapi karirnya meredup setelah memecahkan rekor MURI sebagai penerjun payung sebanyak seribu kali! Pramoedya, karya “Bumi Manusia” dalam tetralogi Pulau Burunya. Riyono Pratikto; tapi saya kurang suka lagi ketika dia patah semangat waktu diindikasi G30S; jadi cengeng. Mochtar Lubis dengan karyanya “Jalan Tak Ada Ujung” dan Mangunwijaya. Kalau pengarang luar negeri Dostoyevsky, Ostrovsky karyanya “Bagaimana Baja Ditempa”, Ernest Hemingway “The Old Man and The Sea”, Eiji Yoshikawa “Musashi”.


Apa aktifitas PATABA beberapa waktu belakangan ini?

Belakangan PATABA bukan cuma sibuk dengan perpustakaan, tetapi juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Rumah Jalan. Sumbawa 40 terbuka bagi kegiatan berbagai LSM/ kelompok sosial yang ikut dalam Komunitas Pasang Surut, biasa disebut dengan Pertemuan 30-an. Komunitas ini terbentuk setelah peringatan 2 tahun meninggalnya Pramoedya Ananta Toer tanggal 30 April 2008 lalu. Komunitas ini aktif dalam pelestarian lingkungan, termasuk Kali Lusi. PATABA juga tempat pertemuan LESM Jarak, tapi belakangan agak surut.


Bagaimana Anda menyikapi perkembangan bangsa sekarang?

Di era Orde Lama rasanya bangsa ini pernah dinilai sebagai mercusuar di Asia, Afrika dan Amerika Latin, juga di banyak Negara Barat. Tapi lahirnya Orde Baru merusak nilai-nilai positif tersebut. Jatuhnya Orde Baru dan era reformasi sampai detik ini belum berhasil mengembalikan citra Orde Lama. Bangsa terus dirundung oleh berbagai pengeroposan dari korupsi, konflik etnis, hegemoni keyakinan, rusaknya tatanan otonomi daerah, semua itu menunjukkan bahwa bangsa ini belum juga dewasa, padahal sudah lebih 60 tahun merdeka. Politik bukan sebagai sarana pemahaman mengelola atau membela negara tetapi sebagai ajang perebutan kedudukan dan asset negara. Mereka buta akan sejarahnya sendiri. Tidak tahu bagaimana cara merubahnya, yang jelas harus ada tokoh yang bisa memberi contoh seperti India dengan Gandhi-nya, Vietnam dengan Paman Ho-nya, atau sekalian tokoh yang kejam karena sejarah membuktikan itu di negeri ini!


Hehe.. Bisa diceritakan tentang rencana PATABA yang akan datang?

Rencana saya menyusun perpustakaan yang akan dikelola secara profesional, dengan katalog buku-bukunya. Tapi susah cari orang idealis sekarang! Sulit untuk mempercayai orang! Perpustakaan sebagai tempat orang-orang belajar. Kalau orang kaya.. berhasil.. itu biasa, tapi kalau orang miskin, cacat.. berhasil.. itu luar biasa! Pendidikan keluarga lebih penting daripada pendidikan formal. Saya menolak teori dan test IQ. Belajar, bekerja, untuk menjadi manusia yang bebas merdeka, bermartabat dan punya harga diri. Kalau kata Pram: ”Jangan pernah minta-minta!” Saya bersyukur hanya sebentar jadi pegawai negeri, tidak punya banyak dosa yang menyengsarakan Rakyat!


Oke, mungkin ada yang ingin disampaikan kepada para pembaca?

Saya berat untuk menasehati orang, saya lebih suka dinasehatin –soalnya nasehat saya tidak manjur! Saya anggap diri saya orang yang gagal!



Untuk informasi lebih lanjut tentang PATABA, hubungi:
Soesilo Toer
Jl. Sumbawa 40. Jetis. Blora - Jawa Tengah
Telp. (0296) 5100233

Foto: Eko Arifianto

Senin, 01 Desember 2008

Mbah Tarno : Jangan buat Pabrik Semen di Jawa Tengah!

Artikel ini berisi wawancara dengan sesepuh sedulur Sikep, Mbah Tarno di Desa baturejo, Sukolilo, Pati - Jawa tengah.

Rencana pembangunan pabrik semen baru di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah oleh PT. Semen Gresik mendapat banyak respon dari masyarakat setempat., termasuk juga dengan sesepuh komunitas sedulur Sikep atau masyarakat biasa menyebut dengan sebutan salah kaprah “Wong Samin”.

Mbah Tarno (100 tahun), demikian biasanya beliau disapa, telah menjalani beberapa jaman dan masa; dari sejak jaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi hingga orde yang tak jelas seperti sekarang ini.

Walau daya penglihatannya agak berkurang namun lelaki tua ini terlihat cukup segar ingatannya. Jari-jari tangannya yang masih nampak kekar sesekali mengambil handuk di pundak untuk mengelap mata-tuanya. Di usianya yang se-abad ini beliau lebih banyak menjalani akfititas keseharian di dalam dan sekitar rumah. Kursi panjang dari bambu di samping rumahnya adalah tempat biasanya beliau menghabiskan waktu siang.

Berikut petikan wawancara –tentunya dalam bahasa Jawa, Eko Arifianto, Jum’at, 24 Oktober 2008, dengan lelaki kelahiran tahun 1908 ini di rumahnya yang sederhana, di Dukuh Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.


Bagaimana tanggapan Mbah Tarno mengenai rencana pembangunan pabrik Semen Gresik di wilayah Pati, Jawa Tengah?

Yo ngene lho… Kok Jawa Timur iki maknane piye? Kok Jawa Barat dununge endi? Nek Jawa Tengah nggon opo? Lho.. iki aku kok ora ape mbantah utowo ngowahi opo-opo.. Iki pakem Jawa ningite ndik jaman kawitan… Sopo wetan sing ngarani nek ora kawitan? Iyo to? Diweki aran dino kok Legi? Maknane piye coba? Mongko iki ning nggone kemanusiaan iki kabeh. Nek Jawa Tengah kuwi tengahan wong… Iki tengah, mongko jenenge weteng.. Ojo diwet-wet lho! Mergo tengah iki daringan. Ora keno dibangun-opo-opo… Ogak keno!

(Ya begini lho... Kok Jawa Timur itu maknanya apa? Kok Jawa barat itu tempatnya di mana? Kalau Jawa Tengah tempatnya apa? Lho... ini aku bukan mau membantah atau merubah segala sesuatunya.. Ini pedoman pokok orang Jawa yang munculnya waktu jaman nenek moyang. Siapa “Timur” yang mengatakan kalau bukan nenek moyang? Iya to? Diberikan nama hari kok “Legi”? Maknanya gimana coba? Padahal ini tempatnya ada di manusia semua. Kalau Jawa Tengah itu ibarat bagian tengah tubuh seseorang. Ini tengah, maka dari itu disebut weteng (perut). Jangan diacak-acak lho! Karena ini tempat bahan pangan. Tidak boleh dibangun apa-apa... Tidak boleh!)


Atas dasar apa Mbah Tarno mengatakan hal tersebut?

Mulane ngene, iki nek aku moco pribadi, moco jiwo rogo.. Iki aku moco awakku dewe.. Ning angger ijih wong yo podho. Iyo to? Roso mung siji… Pecahe roso monggo. Iyo to? Pecahe roso kok dimanggakno, piye? Mergo sing ngidul yo ben.. ngulon-ngetan yo ben... Ning ojo ngaru-aru pedaringan iki! Mergo iki cawisane anak, putu, buyut, canggah, wareng ngasek udek-udek gantung siwur... iki jeh ditutup nung Jawa Tengah iki kabeh. Ngono. Itungane nek sejarah iki moco alame menungso. Opo meneh nek dititik soko bibit lan kawit... Lha iki kesempatan leh ku ngelingno Bibit ki yo nek ngandel, ngono.

(Makanya begini, ini kalau aku membaca diri pribadi, membaca jiwa raga... Ini aku membaca diri saya sendiri... Tapi kalau masih orang kan sama. Bener, kan? Rasa cuma satu.. Terbukanya rasa adalah silahkan, bener, kan? Terbukanya rasa kok dipersilahkan, gimana? Karena yang ke Selatan ya biarkan aja.... Ke Barat-ke Timur ya biarkan.. Tapi jangan mengusik tempat bahan pangan ini! Karena ini disediakan buat anak, cucu, nenek moyang, canggah, wareng, hingga udek-udek gantung siwur... ini masih ditutup di Jawa Tengah semua. Gitu. Kalau berkaitan dengan sejarah ini suatu pembacaan terhadap alam manusia. Apa lagi kalau dilihat dari bibit dan asal mula.. Lha ini kesempatan untuk saya mengingatkan Bibit (Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah) ini kalau dia percaya, gitu.)


Di salah satu media cetak, yaitu Suara Merdeka memuat berita yang isinya Gubernur Jawa Tengah menyatakan bahwa Sedulur Sikep menyetujui pembangunan pabrik semen. Bagaimana tanggapan Anda?

Sing kondho sopo? Mongko nek aku, tak penging. Dadi yo ora mung mligi dulur Sikep sak anak putuku thok, senajan kabeh dulur wilayah Sukolilo sak andhakane yo ora setuju. Nek Jawa Tengah tak penging, mergo Jawa Tengah iku bageh anak putu buyut canggah wareng udek-udek gantung siwur kuwi nong tengah iki kabeh cadangane. Ngono loh aku olehku kondho karo Bibit Waluyo kuwi..

(Yang mengatakan siapa? Padahal kalau aku, aku larang. Jadi ya tidak hanya sedulur sikep dan anak cucuku saja, namun semua saudara wilayah Sukolilo beserta keturunannya ya tidak setuju. Kalau Jawa Tengah saya larang, karena Jawa Tengah itu milik anak, cucu, nenek moyang, canggah, wareng, udek-udek, gantung, siwur itu di bagian tengah ini bagiannya. Gitu lho yang saya katakan kepada Bibit Waluyo itu..)


Lalu, bagaimana Mbah Tarno menanggapi peryataan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo sewaktu datang ke rumah Anda tanggal 22 Oktober 2008 lalu yang mengatakan bahwa “Yang butuh makan tidak hanya sedulur Sikep saja”?

Sikep kuwi opo? Kok muni “ora kabeh” iku? Wong kabeh “sikep” kok! Wong sikep kuwi rabi, nek lanang. Sikep iku sikep rabi. Wong lanang sak ndonya rak dho rabi kabeh. He’e to? Mongko iku lambang ning nyoto, ngono lho... Dadi awake dewe iki nek nebak ”Sing mangan ora sedulur Sikep..” Lho, kabeh sikep kok! Kabeh uwong.

(Sikep itu apa? Kok dibilang ”tidak semua” itu gimana? Semua orang itu ”sikep” kok! Wong sikep itu beristri, kalau laki-laki. Sikep itu sikep rabi. Laki-laki sedunia kan sama kawin semuanya. Benar, kan? Padahal itu lambang yang nyata, begitu lho.. Jadi kalau kita bilang ”Yang butuh makan bukan sedulur Sikep saja..” Lho, semua orang ini sikep kok! Semua orang.)

Trus bagaimana pendapat anak cucu Mbah Tarno sendiri terkait dengan rencana pembangunan pabrik semen ini?

Pancen ora setuju banget… Dadi Jawa Tengah kene iki nek digawe pabrik semen… Aku ora oleh! kabeh anak putuku… Bener iki? Setujuu..?? Ora oleh! Sak Jawa Tengah… Ora keno digawe… Gak keno! Iki langsung yo, dulur? Hei, dungokno kabeh! Dadi anak putuku yo setuju banget, nek iki ditolak, ojo gawe pabrik semen nong Jawa Tengah. Ora cik mung sak kabupaten Pati thok, sak Jawa Tengah! Yo, kabeh!

(Memang sangat tidak setuju... Jadi kalau Jawa Tengah ini dibuat pabrik semen ... Aku tidak boleh! Semua anak cucuku... Benar ini? Setujuu..?? Tidak boleh! Se- Jawa Tengah .. tidak boleh dibuat.. Tidak boleh! Ini langsung ya, saudara? Hey, dengarkan semuanya! Jadi anak cucuku ya sangat setuju kalau ini ditolak, jangan buat pabrik semen di Jawa Tengah. Tidak hanya di Kabupaten Pati saja, tapi se- Jawa Tengah! Ya, semua!)


Kira-kira apa dampak terhadap masyarakat dan sedulur Sikep nantinya bila pabrik semen tersebut dibangun?

Nek kaitane Gunung Kendeng iki pekoro banyu, sumber piro wae kuwi digunakake kanggo pertaniane dulur Sikep kabeh yo kaum tani kabeh. Sing nong Kudus, Pati lan liya-liyane mbutuhno banyu ko kono kabeh. Mongko nek musim ketigo iku, banyu nggo ngombe wae kurang. Wayahe September ora ono banyune mbeke diduduk jerone ora karu-karuan kuwi. Mulane tak penging ganggu. Nek walikan nandur iku nganggo banyu sing ditakdirno soko banyu Gunung Kendeng kuwi. Iki wae nek gak diatur nek ora gentenan kuwi ora nyukupi kok. Mulane aku tak penging gawe ning Jawa Tengah.

(Kalau hubungan dengan Gunung Kendeng ini masalah air, sumber yang banyak jumlahnya itu digunakan buat pertanian sedulur Sikep dan kaum tani semua. Yang di Kudus, Pati dan lainnya membutuhkan air dari situ semua. Padahal kalau musim kemarau itu, air buat minum aja kurang. Bulan September tidak ada airnya walaupun tanahnya sudah digali sedemikian dalam. Makanya itu aku cegah agar jangan diganggu. Kalau waktu tanam kedua memakai air yang ditakdirkan dari Gunung Kendeng itu. Itu saja kalau tidak diatur dan kalau tidak gantian tidak nyukupi kok. Maka dari itu aku larang buat di Jawa Tengah.)


Apa hal tersebut adalah suatu rencana bentuk penjajahan baru?

Iku coro mbiyen le.. ndek jaman Presiden Soekarno... yo kapitalis utowo imperialis, yo klub dagang. Kabeh-kabeh wong ape dijatuhno wong rak yo dho moh ta? Tah dho gelem? Ngono lho. Lha iyo. Ning nek kowe dielek-elek wong yo seneng tah ora? Tunggale meh ngono.

(Itu cara dahulu, nak... ketika jaman Presiden Soekarno... ya kapitalis atau imperialis, yaitu kelompok dagang. Semua orang akan dijatuhkan/dikalahkan, orang-orang tidak mau, kan? Apa sama mau? Gitu lho... Lha iya.. Tapi kalau kamu dijelek-jelekkan orang senang apa tidak? Itu hampir sama dengan sekarang.)


Bagaimana Mbah Tarno sebagai sedulur Sikep melihat hal ini?

Wong ngantek ditrapi dino. Legi kok ning etan arane piye? Pahing kidul, Pon kulon, Wage lor. Mongko” lor” kuwi opo sing wis dieler maune yo ojo diowah-owah. Mergo iki bakal dienggoni sing nong tengah. Mulane Kliwon nggone nong tengah. Ojo dho kliwat le nindakno.. Sekabehe opo wae ki ojo ngasi dho kliwat. Dadi supoyo petitis le ngiseni kuwi lho.. Ning tengah.. Dho kroso po ra ngono kuwi?

(Orang sampai diberi pelajaran tentang hari. “Legi” kok di Timur gimana maksudnya? “Pahing” di Selatan, “Pon” di Barat, “Wage” di Utara. Padahal “Utara” itu artinya apa yang telah dibentangkan sebelumnya jangan diubah-ubah. Karena ini akan ditempati yang di tengah. Itu sebab Kliwon ada di tengah. Jangan kebablasan kalau melakukan sesuatu hal. Segala sesuatunya jangan sampai keterlaluan. Jadi supaya tepat mengisi itu lho.. Di tengah. Sama merasakan apa tidak semua itu?)

Bagaimana pandangan Mbah Tarno melihat perjuangan rakyat seperti juga yang dilakukan warga dan para aktifis saat ini?

Nah, yo ngene iki.. Mulo iki ngene lho.. Lha iyo, iki mongko nek Pabrik Semen kuwi.. anggepku lho... Sing tak pikir iki, awake sing dho ngaku pejuang. Sing diperjuangi iku opo? kok ono kapitalis... Nek aku ngarani iki kapitalis. Lho kok dho dijarno iku... Dadi iki ono kapitalis sing gawe pabrik Semen. Lak bener yo, wo? Iyo, iku anggepku. Mulo dulurku sing ngaku pejuang, kuwi sing diperjuangi opo??

(Nah, ya begini ini.... Maka dari itu begini lho... Lha iya, padahal ini kalau Pabrik Semen itu... menurutku lho.. Yang saya pikir ini, kita yang mengaku pejuang, yang diperjuangkan itu apa? Kok ada kapitalis... Kalau aku bilang ini kapitalis. Lho kok sama dibiarkan itu.. Jadi ini ada kapitalis yang membuat pabrik Semen. Benar, kan? Iya, itu menurutku. Maka saudaraku yang mengaku pejuang, itu yang diperjuangkan apa??)


Ada masukan yang diberikan kepada pemerintah?

Wong ratu yo nduwe kliru kok, opo meneh iku lagek Presiden opo Gubernur. Ojo dho kemendel. Kemendhel tanpo njanur, wong kendel bakal kepetel.

(Raja aja punya kekeliruan kok, apa lagi itu hanya Presiden atau Gubernur. Jangan terlalu berani. Orang berani tanpa arah dan patokan akan kepetel (terjebak dalam kubangan lumpur))



Untuk informasi lebih lanjut tentang Gerakan Tolak Semen Gresik hubungi:
Eko Arifianto
Email: supersamin_inc@yahoo.com
HP. 081328775879


Senin, 24 November 2008

Keterancaman Petani dan Sosial Ekologi, Menyikapi Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Jawa Tengah

Artikel tentang respon rencana pembangunan pabrik semen Gresik di wilayah Sukolilo, Pati, Jawa Tengah yang mengancam ekologi, sosial dan budaya masyarakat sekitar.

Oleh: Eko Arifianto*

”Gunung Kendeng takkan kulepas...
Tempat kita hidup bersama...
Selamanya harus kita jaga...
Jawa Tengah yang jaya...
Itulah harapan kita semua...
Jawa Tengah yang jaya...”

Itulah sepenggal syair yang sering dinyanyikan oleh masyarakat tua-muda yang tergabung dalam JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng) di beberapa kali aksinya menolak rencana pembangunan pabrik Semen di wilayah Sukolilo, Pati. Suara dari kaum petani dan masyarakat bawah ini melambangkan kepeduliannya terhadap alam lingkungan dan tekad yang kuat untuk mempertahankan kelestariannya.

Berbicara mengenai kekayaan alam, masyarakat Jawa memang mempunyai Pegunungan Kendeng Utara yang terletak di bagian utara Pulau Jawa. Seperti legendanya yaitu seekor ular naga raksasa yang sangat besar, pegunungan ini melewati batas-batas administratif daerah yang ada. Liuk tubuhnya membujur dari Barat ke Timur melingkupi Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Rembang, Kabupaten Blora, Jawa Tengah hingga Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur.

Pegunungan yang terbentuk pada masa Meosen Tengah-Meosen Atas atau kurang lebih 25 juta tahun yang lalu berdasarkan skala waktu geologi tersebut merupakan lipatan perbukitan yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati. Ketinggian tertinggi perbukitan karst ini antara 300 - 530 mdpl. Bagian Selatan dari perbukitan tersebut terdapat tebing yang memanjang dari Barat – Selatan dengan kemiringan lereng tegak hingga curam.


Rona Alam dan Lingkungan

Fenomena Karst Sukolilo Kendeng Utara ini tercermin melalui banyaknya bukit-bukit kapur kerucut, munculnya mata-mata air pada rekahan batuan, mengalirnya sungai-sungai bawah tanah dengan lorong goa sebagai koridornya. Sering ditemukan lahan yang sangat kering di permukaan saat musim kemarau pada bagian bukit karena sungai-sungai yang mengalir di permukaan sangat jarang. Aliran air masuk ke dalam rekahan batuan kapur atau batu gamping dan melarutkannya, sehingga di bagian bawah kawasan ini banyak ditemukan sumber-sumber mata air yang keluar melalui rekahan-rekahan batuan.

Berdasarkan peraturan pemerintah dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menjelaskan bahwa Kawasan Karst Sukolilo meliputi 3 (tiga) Kabupaten, yaitu Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora, Propinsi Jawa Tengah.


Pabrik Semen dan Ilusi Pembangunan


Propaganda tentang “pembangunanisme” yang dulu digencarkan kekuasaan Orde Baru masih terus dicekokkan ke masyarakat. Modernisasi pedesaan yang digencarkan lewat kampanye dan proyek-proyek swasembada pangan—yang sesungguhnya adalah industrialiasi pertanian, menjadikan petani tergantung pada benih, pupuk kimia dan obat anti-hama yang semuanya harus dibeli dengan uang. Ilusi bahwa industri membawa kesejahteraan bagi masyarakat masih terus digulirkan oleh para politisi dan aparat pemerintah hingga sekarang.

Begitu juga dengan rencana PT. Semen Gresik membangun pabrik semen baru dengan total lahan seluas 2.000 hektar di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah ini banyak menimbulkan keresahan hingga menimbulkan aksi penolakan di berbagai elemen dan tempat.

Sebetulnya banyak kasus menunjukkan bahwa perkembangan industri –khususnya pertambangan— justru berdampak pada peningkatan kemiskinan dan kerugian di pihak masyarakat lokal. Industrialisasi merupakan sumber lahirnya kelas-kelas masyarakat miskin yang tak memiliki apapun lagi untuk dijual kecuali tenaganya. Bila selama ini petani di Sukolilo, Pati, memiliki tanah sendiri dan menggantungkan hidupnya dari sana, maka nanti saat industri semen berdiri, hidup masyarakat akan berubah menjadi bergantung pada pabrik semen. Kemandirian petani akan hilang karena sumber penghidupannya kini beralih ke pabrik yang tidak selamanya menjamin pemenuhan kebutuhan hidup mereka.

Jaminan pihak PT. Semen Gresik untuk memberi pelatihan kepada masyarakat setempat dan mempekerjakan warga lokal di pabriknya sangat diragukan –selain hanya sebagai pekerja-pekerja kasar dengan upah rendah. Keproduktifitasan masyarakat pastinya akan dibatasi dengan persyaratan umur dan latar belakang pendidikan formal.

Begitupun janji untuk membangun infrastruktur penunjang yang akan menyejahterakan masyarakat, misalnya pembangunan rumah sakit, PDAM, pembangunan jalan dan penerangan jalan serta infrastruktur penunjang lainnya. Hal inilah yang seringkali dianggap sebagai indikasi pembangunan dan kemajuan wilayah pedesaan. Fasilitas yang memadai memberi ilusi bahwa kemajuan telah menyentuh masyarakat petani. Jika kita analisis dengan pendekatan ekologis, fasilitas tersebut tidak akan sepadan dengan dampak ekologi yang ditimbulkan.


Pelanggaran-Pelanggaran Proyek Kejar Tayang

Rencana pendirian pabrik semen di Kecamatan Sukolilo yang didukung Pemerintah Kabupaten Pati ini banyak terdapat pelanggaran. Pertama: Pengeluaran ijin lokasi tanggal 4 Januari 2008 tidak berdasarkan pada Perda Tata Ruang Tata Wilayah Kabupaten Pati karena rancangan Perda RTRW 2008-2009 Kabupaten Pati masih dalam proses persetujuan pemerintah pusat. Namun untuk memperlancar pemberian ijin terhadap Semen Gresik, Bupati Pati, Tasiman mengeluarkan surat pernyataan kesesuaian RTRW pada tanggal 17 April 2008 untuk dijadikan rujukan dalam menilai kesesuaian RTRW yang membuat Semen Gresik dapat merealisasi rencana untuk membangun Semen Gresik di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Padahal, surat Bupati tidak memiliki kekuatan hukum sebagai pengganti Perda.

Pelanggaran kedua: Studi AMDAL PPLH UNDIP yang bekerjasama dengan PT. Semen Gresik beberapa waktu yang lalu, tampaknya tidak mempertimbangkan Keputusan Menteri ESDM, padahal keputusan tersebut menjelaskan bahwa kawasan perbukitan batu gamping yang terletak di kecamatan Sukolilo, kecamatan Kayen, kecamatan Tambakromo di Kabupaten Pati, kecamatan Brati, kecamatan Grobogan, kecamatan Tawangharjo, kecamatan Wirosari dan kecamatan Ngaringan di kabupaten Grobogan, serta kecamatan Todanan di kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah masuk sebagai Kawasan Karst Sukolilo. Keputusan ini didukung dengan terbitnya PP No. 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional yang menyatakan bahwa kawasan karst masuk dalam areal kawasan lindung nasional. Padahal kita semua tahu bahwa kawasan lindung mustinya harus dilestarikan dan tidak boleh ditambang.

Pelanggaran Ketiga: Adanya intimidasi dan pembohongan kepada publik yang dilakukan oleh oknum perangkat desa sewaktu PT. Semen Gresik melakukan sosialisasi bersama Muspika Sukolilo, seperti dengan mengharuskan masyarakat menyetujui rencana pendirian pabrik semen tersebut karena sudah direstui oleh Gubernur dan Presiden. Hal tersebut merupakan suatu pemutarbalikan fakta, karena dalam acara pembukaan Posko Penyelamatan Gunung Kendeng di Kecamatan Sukolilo pada tanggal 19 Maret 2008, secara tertulis Gubernur Jawa Tengah, Ali Mufiz mengatakan bahwa: “Hal yang perlu secara serius dilakukan untuk menyelamatkan pegunungan Kendeng adalah dengan mengembalikan daya guna pegunungan Kendeng sebagai hutan lindung dan sumber mata air yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.”

Mungkin memang wajar jika pemerintah kabupaten Pati sangat terobsesi untuk melangsungkan proyek pembangunan pabrik semen Gresik, dikarenakan ada beberapa data yang menyebutkan bahwa pemerintah daerah Pati merupakan salah satu pemerintah daerah terkorup. Ada indikasi kepentingan-kepentingan pemerintah Pati dalam menerima proyek pembangunan pabrik semen Gresik ini. Walaupun begitu dengan dalih meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dan penyerapan tenaga kerja hal tersebut dijadikan alasan.


Janji Imitasi dan Bencana yang bakal ditimbulkan

Dari data studi kelayakan PT. Semen Gresik menyebutkan, kebutuhan tenaga kerja pabrik semen di Sukolilo untuk kontruksi sebanyak 2.000 orang dan untuk operasi 1.000 orang. Hasil perhitungan ini didapat dari adanya rencana kegiatan penambangan yang akan dilakukan PT. Semen Gresik di Sukolilo. Namun, sebetulnya ini tidak sebanding dengan kerugian ekonomi dan biaya yang akan dikeluarkan untuk perbaikan kerusakan lingkungan.

Asap dan debu yang akan setiap saat dimuntahkan oleh cerobong pabrik akan menimbulkan gangguan pada kesehatan manusia dan menurunkan hasil produksi pertanian. Hilangnya sumber mata air akan berdampak terhadap berkurangnya cadangan air untuk kebutuhan sehari-hari, dan akan mengakibatkan kekeringan di lahan-lahan pertanian. Hilangnya lahan pertanian akan berdampak terhadap hilangnya sumber penghidupan para petani, ancaman pengangguran dan paceklik. Angka pengangguran yang meningkat tajam dan paceklik yang berkepanjangan akan menyebabkan angka kriminalitas melesat pesat.

Kondisi pegunungan Kendeng saat ini sudah tidak lagi dipenuhi oleh berbagai jenis vegetasi, banyak bagiannya yang gersang. Dan apabila pabrik semen didirikan di sana dan melakukan eksploitasi batu kapur sebagai bahan dasar pembuatan semen, maka kondisi pegunungan Kendeng akan semakin parah. Ditambah lagi Kabupaten Pati, Kudus dan Grobogan dan Blora memiliki beberapa wilayah langganan banjir saat musim penghujan; apabila tidak ada lagi keseimbangan alam di wilayah pegunungan dan dataran rendah, dapat dipastikan bencana alam yang lebih besar akan mengancam kita bersama.

Selain dampak lingkungan, praktik alih fungsi lahan dari pertanian ke industri akan menyebabkan berubahnya tatanan sosial dan hilangnya budaya asli dan semangat kegotong-royongan masyarakat lokal.

Kenyataan telah banyak membuktikan bahwa kegiatan industrialisasi telah banyak menyebabkan kerusakan lingkungan, mulai hilangnya mata air, polusi udara, polusi suara dan berkurangnya vegetasi, degradasi keanekaragaman hayati serta terkuak pula kebohongan-kebohongan perusahaan yang pada awalnya menjanjikan hal yang sama, yakni kesejahteraan masyarakat dan peningkatan ekonomi namun faktanya menyatakan sebaliknya, yaitu menciptakan kerusakan lingkungan dan kemiskinan global.

Sayangnya, sampai saat ini Kawasan Kars Sukolilo yang melingkupi (3) tiga kabupaten yaitu Kabupaten Pati, Grobogan dan Blora belum ditetapkan sebagai kawasan perlindungan karst. Status ini menjadikan kawasan ini berisiko tinggi dan dikelola secara tidak tepat asas. Pengelolaan kawasan karst yang tidak berorientasi pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan akan memunculkan risiko kerusakan lingkungan dan bencana kekeringan. Berkenaan dengan hal tersebut maka informasi tentang keberadaan dan nilai kawasan karst tersebut perlu digali dan diinformasikan ke pelbagai pihak sehingga dapat dilakukan kebijakan dan praktek pembangunan yang baik di kawasan tersebut.


Goa dan Eksotisme Alam

Kondisi struktur geologi yang unik menyebabkan batu gamping sebagai batuan dasar penyusun formasi karst Sukolilo memiliki banyak rekahan, baik yang berukuran minor maupun mayor. Rekahan-rekahan ini merupakan cikal bakal pembentukan dan perkembangan sistem pergoaan di kawasan kars setelah mengalami proses pelarutan dalam ruang dan waktu geologi. Inilah yang menjadikan wilayah karst Sukolilo ini sangat eksotik. Ada puluhan goa yang tersebar di beberapa kecamatan, beberapa di antaranya adalah Goa Kembang, Dusun Wates, Goa Lowo Misik, Goa Kalisampang, Goa Tangis, Goa Telo, Goa Ngancar, Sumur Jolot Dusun Kancil, Desa Sumber Mulyo Pati, Goa Urang, Dusun Guwo, Kemadoh Batur, Grobogan, Goa Bandung, Goa Serut, Goa Gondang, Goa Banyu Desa Sukolilo, Goa Wareh Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo dan Goa Pancur di Kecamatan Kayen. Di goa-goa tersebut banyak sekali terdapat sumber mata air aktif, telaga dan sungai bawah tanah yang kemudian terdistribusikan keluar melalui mata air-mata air yang bermunculan di bagian pemukiman dan di daerah-daerah dataran sekitar Kawasan Karst Pati.


Mata Air dan Fungsinya

Perbukitan kawasan karst Sukolilo mempunyai fungsi hidrologi, yaitu sebagai daerah resapan dan penyimpan air untuk mata air-mata air yang mengalir di pemukiman, baik di bagian Utara maupun bagian Selatan kawasan yang berguna bagi kelangsungan ekosistem yang ada. Kawasan karst ini menjadi sebuah tandon air alam raksasa bagi semua mata air yang terletak di ketiga kabupaten yang ada. Begitu juga komplek perguaan kawasan karst ini memiliki potensi sumber daya air untuk kebutuhan dasar rumah tangga serta ribuan hektar lahan pertanian sebagai sumber penghidupan mereka.

Sumber daya air ini merupakan aset berharga bagi masyarakat sekitar kawasan karst, karena hampir seluruh masyarakat di kawasan Karst Kendeng Utara yang meliputi Kecamatan Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Kabupaten Pati memanfaatkan sumber-sumber air yang berasal dari Kawasan Karst Sukolilo.

Beberapa puluh sumber mata air yang ada, di antaranya terdapat di Desa Sukolilo yaitu sejumlah 19 mata air, Desa Gadudero terdapat 3 mata air, Desa Tompe Gunung 21 mata air, Desa Kayen 4 mata air, Desa Kedumulyo 1 mata air, Desa Mlawat 1 mata air, Desa Baleadi 3 mata air dan Desa Sumbersuko 24 mata air.

Semuanya adalah sumber mata air aktif yang memiliki debit aliran bervariasi dari 1 liter per detik hingga 178,90 liter per detik. Sumber air yang terbesar di kecamatan Sukolilo adalah Sumber Lawang yang terletak di Dusun Tengahan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo dengan debit aliran di musim kemarau 178,90 liter per detik. Sumber ini memenuhi kebutuhan air lebih dari 2000 KK di Kecamatan Sukolilo dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, MCK, ternak, kebutuhan dasar sehari-hari dan sebagai saluran irigasi untuk lebih dari 4000 hektar areal persawahan. Selain itu juga Sumber Lawang juga telah dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik di Dusun Tengahan.

Di Pati Selatan sendiri, secara keseluruhan sumber daya alam di wilayah pegunungan Kendeng Utara telah memberikan kemanfaatan bagi 91.688 jiwa di Kecamatan Sukolilo dan 73.051 jiwa di Kecamatan Kayen. Mata air pegunungan Kendeng merupakan sumber pengairan 15.873,9 hektar lahan pertanian di Kecamatan Sukolilo dan 9.603,232 hektar lahan pertanian di Kecamatan Kayen.

Selain potensi sumber daya air, sebagian goa di kawasan karst Kendeng Utara Pati merupakan tempat tinggal bagi komunitas kelelawar. Kelelawar sangat berperan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama bagi tanaman pertanian.


Situs Sejarah Peninggalan Nenek Moyang

Di samping semua potensi sumber daya alamnya, di pegunungan Kendeng banyak terdapat peninggalan sejarah berupa situs, pesarean dan tempat pertapaan. Seperti halnya Watu Payung yang merupakan simbolisasi dari sejarah pewayangan keluarga Pandawa. Beberapa situs tersebut terartikulasikan dalam beberapa relief alam yang terdapat di pegunungan Kendeng. Di tempat tersebut juga terdapat Pertapaan Dewi Kunthi, tentang bekas asahan Kuku Pancanaka Bima, Empat Punakawan: Semar, Gareng, Petruk, Bagong, bekas tapak kuda Pandudewanata, dan lain sebagainya.

Selain kisah pewayangan juga terdapat situs yang memiliki kaitannya dengan Angling Dharma. Bukan hanya itu, di Kecamatan Kayen juga terdapat makam Syeh Jangkung yang dianggap sebagai salah satu tokoh dalam mitologi masyarakat lokal di wilayah Pati.

Beberapa situs yang ada di pegunungan Kendeng saat ini masih diyakini oleh para penduduk sebagai bagian dari kesadaran simbolisnya, hal ini terlihat masih banyak peziarah atau para pengunjung yang datang sebagai bagian dari bentuk kesadaran kultural dan spiritualitas. Kekuatan simbolik situs-situs kebudayaan yang ada di wilayah pegunungan Kendeng memiliki ikatan kultural tidak hanya seputar Sukolilo Pati saja, namun banyak juga yang berasal dari dari wilayah Kudus, Demak, Purwodadi, Blora, Jepara, dan sekitarnya.

Untuk itu, sesuai dengan PP No. 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional yang menyatakan bahwa kawasan karst masuk dalam areal kawasan lindung nasional dan mengingat Kawasan Karst Sukolilo yang ada di 3 (tiga) kabupaten yaitu Kabupaten Pati, Grobogan dan Blora ini merupakan kawasan penyimpan air bagi seluruh mata air karst di tiga daerah setempat maka sudah sepatutnya PT Semen Gresik membatalkan rencana pembangunan pabrik semen di wilayah tersebut; begitu juga Pemerintahan Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora perlu mengambil kebijakan untuk menetapkan kawasan ini sebagai kawasan karst yang dilindungi agar fungsinya tetap terjaga sehingga risiko bencana ekologis dan rusaknya nilai-nilai sejarah di kemudian hari dapat dihindari.

Begitu juga kajian alternatif untuk pengembangan kawasan seperti misalnya potensi pariwisata yang terdapat di pegunungan Kendeng sangat memberikan dampak positif bagi pelestarian lingkungan. Bagaimana kekhasan karakter dan kearifan lokal masyarakat desanya adalah suatu potensi bangsa yang luar biasa untuk menuju masa depan yang berbudaya dan berwawasan lingkungan.


*Koordinator Komunitas Pasang Surut, sebuah kelompok yang terdiri dari berbagai LSM dan elemen-elemen sosial di wilayah Blora, Cepu, Randublatung, Rembang, Purwodadi, Juwana, Pati, Kudus, Solo dan Semarang yang bergerak di bidang seni, budaya, sosial dan pelestarian lingkungan.


Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Eko Arifianto
Email: supersamin_inc@yahoo.com









Minggu, 21 September 2008

Buy Nothing Day [Hari Tanpa Belanja]

“Wuaduh lebaran koq lagi-lagi belanja belanja belanja, konsumsi konsumsi, beli beli beli, apa gak ada hal lain yang bisa dilakukan ???”

Hari Tanpa Belanja atau lebih dikenal “Buy Nothing day” awal mulanya dirayakan tiap tanggal 28 November atau hari sabtu setelah perayaan thanksgiving tapi kalo di sini biasanya dirayakan pada hari sabtu pekan terakhir di bulan November. Dan sekarang ide awal tentang Buy Nothing day tersebut berkembang menjadi Buy Nothing Week. Tapi aku postingin artikel ini lantaran kalo di endonesa sekaranglah moment yang menurutku cukup tepat. Moment lebaran dimana biasanya orang-orang pada suka belanja-belanja yang gak penting dan banyak mall juga gelar diskon. Dan menurutku diskon tuh semacem jebakan konsumerisme, dimana seharusnya barang tersebut nggak kalian butuhkan lantas kalian beli karena murah harganya dan diskon pastinya yaaa taulah barang-barang yang gak laku-laku[hehe, koq malah ngelantur ke diskon ???]. Oke berikut ini sedikit sejarah dan penjelasan Buy Nothing Day yang aku dapatkan dari berbagai sumber…

Apa Hari Tanpa Belanja itu?
Hari Tanpa Belanja adalah sebuah ide sederhana untuk bersikap lebih kritis pada budaya konsumen dengan jalan mengajak kita untuk tidak berbelanja selama sehari. Ini adalah suatu bentuk perlawanan terhadap budaya konsumerisme.


Dari mana Hari Tanpa Belanja berasal?
Hari Tanpa Belanja telah dimulai sejak 1993 oleh Adbuster—sebuah kolektif aktivis media yang berpusat di Kanada yang bertujuan meningkatkan kesadaran kritis konsumen (idenya berasal dari Ted Dave, pendiri Adbusters). Kini Hari Tanpa Belanja telah dirayakan secara internasional di lebih dari 30 negara.

Apa tujuannya?
Sebagai konsumen, kita seharusnya mempertanyakan produk-produk yang kita beli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Idenya adalah untuk membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak yang mereka beli telah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang.

Siapa yang merayakan?
Kamu, Kalian! Ini adalah perayaan kita! Beritahu teman-teman, pasanglah poster dan jangan belanja.

Mengapa ada perbedaan tanggal perayaan?
Di Amerika Serikat dan Kanada, Hari Tanpa Belanja biasanya dirayakan sehari setelah hari perayaan Thanksgiving. Namun di Indonesia, Hari Tanpa Belanja biasa dirayakan pada hari Sabtu pada minggu terakhir bulan November dan tidak menutup kemungkinan di Indonesia di adakan beberapa hari sebelum perayaan Idul Fitri, dimana pada hari itu biasanya merupakan klimaks masyarakat Indonesia mendatangi pusat-pusat perbelanjaan didaerahnya masing-masing . Begitu juga ditempat lainnya, hari dipilih berdasarkan hari yang paling memungkinkan pada saat itu orang-orang menghabiskan waktu untuk berbelanja.

Apa yang akan saya dapatkan?
Selama 24 jam atupun seminggu Kamu akan mengambil jarak dari konsumerisme dan merasa bahwa belanja itu tidak terlalu penting. Setelah itu Kamu akan mendapatkan kembali kehidupanmu. Itu adalah sebuah perubahan besar! Kami ingin Kamu membuat komitmen untuk mengurangi belanja, lebih sering mendaur-ulang, dan mendorong para produsen untuk bersikap lebih jujur dan fair. Konsumerisme modern mungkin merupakan sebuah pilihan yang tepat, tetapi tidak seharusnya berdampak buruk bagi lingkungan atau negara-negara berkembang. Satu hal yang sangat menantang tapi akan berbuah kepuasan untuk bisa mencoba hidup tanpa belanja. Ini akan menjadi sebuah prestasi dengan reward nya yaitu diambilnya kembali waktu-waktu yang biasanya Kamu pake "shopping" dengan hal-hal yang bisa kamu gunakan untuk mengembangkan potensimu. Menulis, menggambar, main musik, korespondensi, memasak, olah raga, dll.

Apakah itu berarti saya dilarang belanja?
Percayalah, sehari tanpa belanja tak akan membuat Kamu menderita. Kami ingin mendorong agar orang-orang berpikir tentang akibat-akibat dari apa yang mereka beli bagi lingkungan dan negara-negara berkembang.

Belanja? Apa salahnya?
Sebenarnya bukan hanya belanja itu sendiri yang berbahaya, tetapi juga apa yang kita beli. Ada dua wilayah yang perlu kita perhatikan, yaitu lingkungan dan kemiskinan. Negara-negara kaya di Barat (hanya 20% dari populasi dunia) mengkonsumsi lebih dari 80% sumber alam dunia, dan menyebabkan ketakseimbangan dan kerusakan lingkungan, serta kesenjangan distribusi kesejahteraan. Kita patut cemas pada cara barang-barang kita dibuat. Juga banyaknya perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan tenaga kerja di negara-negara berkembang karena murah dan tidak ada sistem perlindungan pekerja.

Bagaimana dengan lingkungan?
Bahan-bahan baku dan cara pembuatan yang digunakan untuk membuat barang-barang kita memiliki dampak buruk seperti limbah beracun, rusaknya lingkungan, dan pemborosan energi. Pengiriman barang-barang ke seluruh dunia juga menambah tingkat polusi.

Apakah satu hari akan membuat perubahan?
Hari Tanpa Belanja tidak akan mengubah gaya hidup kita hanya dalam satu hari, ia lebih merupakan sebuah pengalaman melakukan perubahan! Kami bertujuan membuat Hari Tanpa Belanja mengendap dalam ingatan setiap orang—layaknya peringatan Lebaran, Natal, atau Tujuh Belasan—agar juga berpikir tentang diri mereka sendiri, tentang keluarga terdekatnya, keluarga, teman-teman, dan masa depan.

Pikir lagi sebelum membeli! Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini sebelum berbelanja!
Apakah saya benar-benar memerlukannya?
Berapa banyak yang sudah saya punya?
Seberapa sering saya akan memakainya?
Akan habis berapa lama?
Bisakah saya meminjam saja dari teman atau keluarga?
Bisakah saya melakukannya tanpa barang ini?
Akankah saya bisa membersihkan dan/atau merakitnya sendiri?
Akankah saya bisa memperbaikinya?
Apakah barang ini berkualitas baik?
Bagaimana dengan harga? Apakah ini barang sekali pakai?
Apakah barang ini ramah lingkungan?
Dapatkah didaur-ulang?
Apakah barang ini bisa diganti dengan barang lain yang sudah saya miliki?

Info lainnya tentang Hari Tanpa Belanja :

Wikipedia Indonesia

kunci.or.id

Anarchoi.gudbug.com


Statistik Konsumsi